- Home
-
- Luar Negeri
-
- Produsen Senjata Ukraina A...
Produsen Senjata Ukraina Ancam Serang Iran dengan Rudal Jarak Jauh Flamingo
Rabu, 05 Agu 2026, 00:12 WIBKYIV - Ketegangan antara Ukraina dan Iran kembali memanas setelah seorang petinggi industri pertahanan Ukraina melontarkan ancaman yang memicu perhatian internasional.
Dari Military Watch Magazine, Denys Shtylerman, Kepala perusahaan pertahanan Fire Point yang mengembangkan keluarga rudal FP-5 Flamingo, mengunggah ilustrasi di media sosial yang memperlihatkan sekawanan burung flamingo terbang dari Ukraina menuju Iran. Dalam gambar tersebut tertulis kalimat, "Apakah Flamingo tinggal di Iran? Kita akan segera mengetahuinya."
Tak hanya itu, Shtylerman juga menulis bahwa siapa pun yang mengancam Ukraina perlu mengingat satu hal.
"Flamingo kami terbang sejauh 3.000 kilometer."
Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi bahwa rudal jelajah Flamingo diklaim memiliki jangkauan yang cukup untuk menyerang target di wilayah Iran dari Ukraina.
Namun hingga kini, tidak ada data resmi yang membuktikan kemampuan tersebut. Pemerintah Ukraina maupun lembaga independen belum memverifikasi apakah rudal Flamingo benar-benar memiliki jangkauan 3.000 kilometer, atau apakah sistem tersebut telah berstatus operasional. Karena itu, klaim tersebut masih sebatas pernyataan dari pihak pengembang.
Apabila kemampuan tersebut benar, Flamingo akan menjadi salah satu rudal jelajah konvensional dengan jangkauan terjauh yang pernah dikembangkan Ukraina, sekaligus mampu menjangkau sasaran jauh di luar medan perang Rusia-Ukraina.
Pernyataan itu muncul di tengah memburuknya hubungan Kiev dan Teheran. Selama beberapa tahun terakhir, Ukraina berulang kali menuduh Iran memasok drone serang dan perlengkapan militer lainnya kepada Rusia untuk digunakan dalam perang. Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak mengirim senjata untuk mendukung operasi militer Rusia di Ukraina, selain kerja sama yang sebelumnya telah diakui.
Di sisi lain, sejumlah negara Barat terus menuduh adanya kerja sama militer yang erat antara Teheran dan Moskow.
Laporan ini juga muncul setelah insiden pada Juli lalu ketika sebuah kapal kargo Iran di Laut Kaspia diserang. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan seorang pelaut dan melukai satu lainnya. Insiden itu memunculkan spekulasi bahwa Iran dapat mempertimbangkan langkah balasan terhadap target-target Ukraina, meski hingga kini belum ada konfirmasi mengenai rencana tersebut.
Military Watch Magazine juga menilai bahwa Ukraina memperoleh dukungan besar dari negara-negara Barat dalam pengembangan kemampuan serangan jarak jauh, mulai dari pendanaan, teknologi, komponen, hingga dukungan intelijen. Awalnya kemampuan tersebut ditujukan untuk menghadapi Rusia, tetapi secara teoritis dapat digunakan terhadap target lain apabila situasi geopolitik terus memburuk.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi resmi bahwa Ukraina berencana melancarkan serangan rudal ke wilayah Iran. Pernyataan Denys Shtylerman masih dipandang sebagai sinyal politik dan psikologis yang belum disertai bukti kemampuan operasional maupun keputusan pemerintah Ukraina.
- Perang Iran
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Khawatir Hujan Rudal Iran, AS Pindahkan F-35 dari Pangkalan Teluk ke Israel
-
Mojtaba Bersumpah Iran akan Terus Mendukung Hizbullah
-
Intelejen Rencana Serangan ke Gunung Pickaxe Iran Bocor ke Publik, Trump Kesal pada Netanyahu - Picu Ketegangan Baru AS-Israel
-
Iran Konfirmasi Pilot Su-24 Tewas Usai Serang Pangkalan AS di Al Udeid Qatar, Misteri Terungkap Lewat Tes DNA
-
AS akan Serang Habis-habisan Semua Lokasi Nuklir Iran, Target Berikutnya Kompleks Bawah Tanah Gunung Pickaxe
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.