Gunung Juga Perlu Istirahat, Agar Menjaga Warisan Alam Nusantara Tetap Lestari
📅 Senin, 29 Des 2025, 18:18 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Eka Fitriani/Asa
MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT - Musim libur akhir tahun selalu identik dengan ransel besar, sepatu lapangan, dan antrean panjang di jalur pendakian.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), momen itu biasanya berpuncak di Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, dua mahkota alam yang selama bertahun-tahun menjadi magnet wisata minat khusus.
Namun, menjelang pergantian 2025 ke 2026, cerita yang muncul justru berbeda. Seluruh jalur pendakian di dua gunung tersebut ditutup.
Bagi sebagian orang, penutupan terasa seperti rem mendadak di tengah euforia. Bagi yang lain, inilah alarm keras tentang batas daya dukung alam yang selama ini kerap diabaikan.
Penutupan Rinjani dan Tambora bukan peristiwa tunggal. Ia hadir di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem, tekanan wisata massal, dan jejak luka ekologis yang menumpuk dari tahun ke tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam konteks kekinian, kebijakan ini menjadi cermin penting tentang bagaimana negara mengelola pariwisata alam di tengah krisis iklim dan perubahan pola kunjungan wisatawan.
Jalur pendakian
Awal Januari hingga akhir Maret 2026, seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup. Enam jalur utama yang selama ini menjadi pintu masuk pendaki, mulai dari Senaru hingga Sembalun, dihentikan sementara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Alasan resminya adalah mitigasi risiko bencana hidrometeorologi dan pemulihan ekosistem. Pada periode yang hampir bersamaan, seluruh jalur pendakian Gunung Tambora di Pulau Sumbawa juga ditutup sejak akhir Desember 2025, dengan durasi yang menyesuaikan kondisi cuaca dan keamanan.
Kedua kebijakan ini lahir dari konteks yang sama. Curah hujan tinggi meningkatkan risiko longsor, banjir bandang, dan pohon tumbang. Jalur pendakian yang terbuka di lereng curam menjadi sangat rentan.
Dalam beberapa tahun terakhir, catatan kejadian kecelakaan pendaki di musim hujan menunjukkan pola yang berulang. Penutupan menjadi langkah paling rasional untuk mencegah risiko yang lebih besar.
Namun, di balik alasan keselamatan, ada lapisan persoalan lain yang tak kalah penting. Tekanan terhadap ekosistem Rinjani dan Tambora terus meningkat.
Rinjani, misalnya, bukan hanya gunung, tetapi taman nasional dengan keanekaragaman hayati tinggi dan danau kawah yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.
Setiap musim pendakian panjang, jejaknya selalu sama. Sampah menumpuk, vegetasi terinjak, jalur melebar, dan kawasan inti kehilangan waktu untuk pulih.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!