Wamen Stella Christie:Ingatkan Pendidikan Anak Tak Perlu Latah Ikuti Tren AI
📅 Sabtu, 20 Des 2025, 11:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang sangat pesat dan merambah berbagai lini kehidupan. Namun yang jadi pertanyaan, apakah anak-anak usia dini juga perlu dikenalkan dengan AI?
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, dalam 2025 International Symposium on Early Childhood Education and Development (ECED) menegaskan sebenarnya ada yang lebih penting diberikan pada anak ketimbang ikutan latah dengan tren AI.
Alih-alih diajarkan tentang kecerdasan buatan, kata Stella, anak usia dini ternyata lebih membutuhkan stimulasi yang berbasiskan pada sains. Pengasuhan yang berbasiskan pada sains dan interaksi yang berkualitas antara anak dan orang tua atau pengasuh.
"Sebagai peneliti yang fokus pada bagaimana manusia berpikir, saya menemukan bahwa pengasuhan dengan interaksi yang optimal antara anak dan pengasuh memiliki potensi terbesar dalam mengoptimalkan pertumbuhan anak," kata Stella yang banyak meneliti mengenai kecerdasan anak di laboratoriumnya di Tsinghua University, Beijing itu.
Itu pula yang membuatnya enggan menulis buku AI untuk anak-anak meski diminta oleh banyak pihak. Stella, menyebut ada dua pertanyaan mengemuka di benaknya. Apakah anak-anak benar-benar membutuhkan buku tersebut? atau memang ada hal lain yang terbaik yang bisa dilakukan oleh anak? Namun apakah AI akan menggantikan manusia?
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam simposium yang berlangsung pada Rabu (17/12) itu, Stella menjawab semua pertanyaan itu. Menurutnya, jika anak diajarkan seperti AI berpikir, maka akan mudah digantikan. Satu-satunya cara agar tidak bisa digantikan adalah memiliki perbedaan dari AI.
Namun ada pertanyaan yang mengemuka. Apa sebenarnya kelebihan dari manusia? Dan bagaimana mengajarkan kelebihan manusia?
Sebagai peneliti kecerdasan, ia menggunakan pendekatan interdisiplin untuk memahami bagaimana manusia berpikir. Dalam penelitian di laboratorium di Tsinghua University, ia melibatkan anak-anak, hewan dan kecerdasan buatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam eksperimennya pada anak usia 2 hingga 3 tahun, ia membandingkan dua gambar bangun datar dengan pola yang sama. Mayoritas anak-anak yang ditanyakan mana gambar yang mirip dengan gambar contoh akan kebingungan dan menjawabnya dengan salah.
Uniknya, pertanyaan yang sama ditanyakan dengan pendekatan yang berbeda yakni membandingkan gambar satu dengan gambar lainnya, maka sebagian besar anak bisa menjawabnya dengan benar.
"Anak-anak belajar melalui rasa ingin tahu dan meniru, namun mereka melakukan imitasi tidak sembarang mengikuti. Melainkan tetap menggunakan rasionalitas," kata Stella lagi.
Stella menjelaskan anak berkembang dengan bertanya dan meniru. Oleh karena itu, penting memberi kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk belajar melalui pertanyaan, menjawab dengan cara yang mendorong berpikir, sekaligus menunjukkan teladan yang baik dalam keseharian.
Stella menegaskan bahwa pengasuhan yang berpijak pada bukti ilmiah dan relasi yang bermakna merupakan landasan bagi perkembangan otak dan proses belajar anak sepanjang hayat.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa tidak ada teknologi termasuk kecerdasan buatan yang dapat menggantikan kekuatan interaksi manusia. Bahkan dalam sebuah studi, AI akan semakin cerdas jika mendapatkan stimulasi yang diberikan pada anak. Dengan kata lain AI belajar pada anak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!