Rupiah Hari Ini Tertekan, Bayang-Bayang Ketidakpastian Ekonomi AS Menguat

Kamis, 18 Des 2025, 17:25 WIB

JAKARTA – Pelemahan rupiah yang terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian perekonomian Amerika Serikat mencerminkan sensitivitas pasar keuangan domestik terhadap dinamika global.

Kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter The Fed, prospek pertumbuhan AS, serta potensi gejolak pasar keuangan mendorong investor bersikap lebih defensif dan mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap aman.

Ket. Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Dhemas Reviyanto

Tekanan eksternal ini mempersempit ruang penguatan rupiah, meski fundamental ekonomi domestik relatif terjaga, sehingga stabilisasi nilai tukar sangat bergantung pada kombinasi respons kebijakan dan sentimen global ke depan.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (18/12), bergerak melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.723 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.694 per dolar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi ketidakpastian mengenai perekonomian AS yang meningkat pada pekan ini.

“(Hal ini) terutama karena data resmi pemerintah memberikan sinyal yang beragam mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve juga memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Kini, pasar disebut menantikan inflasi inflasi indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) untuk mendapatkan petunjuk mengenai perekonomian di AS.

Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat, sementara CPI inti diprediksi tetap stabil di angka 3 persen per tahun.

Pasar tenaga kerja dan inflasi menjadi dua indikator kunci yang membentuk arah kebijakan Federal Reserve karena keduanya mencerminkan keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Ketahanan pasar kerja memberi ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih ketat, sementara tekanan inflasi yang persisten menuntut kebijakan moneter tetap restriktif.

Sebaliknya, pelemahan ketenagakerjaan atau penurunan inflasi yang lebih cepat dari perkiraan dapat membuka peluang penyesuaian kebijakan, sehingga keputusan The Fed sangat bergantung pada dinamika dan konsistensi dua indikator tersebut.

“Namun, selain suku bunga, pasar juga khawatir tentang potensi periode stagflasi bagi perekonomian AS – sebuah skenario di mana pengangguran meningkat seiring dengan inflasi,” kata Ibrahim.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.722 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.698 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.