Indonesia Dikepung Tiga Siklon

Rabu, 17 Des 2025, 03:03 WIB

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan saat ini terpantau ada tiga siklon yang mengepung Indonesia. Ketiga siklon tersebut yaitu siklon Bakung, bibit siklon 93S, dan bibit siklon 95S.

“Saat ini ada tiga siklon yang mengepung Indonesia, Bapak Presiden. Yang pertama, Siklon Bakung,” kata Faisal saat memberi laporan kepada Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12).

Ket. Foto: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (tengah atas) memberi laporan kepada Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). — Sumber: Antara

Faisal menjelaskan, siklon Bakung berkembang di barat daya Lampung dan bergerak menjauhi Indonesia.

Namun, menurut pemantauan BMKG, status siklon ini naik dari kategori 1 ke kategori 2. Dia pun mengingatkan bahwa siklon tropis Senyar yang mengakibatkan cuaca ekstrem di wilayah Sumatera hanya tercatat di kategori 1.

BMKG memprediksi siklon Bakung ini dapat bergerak mendekati wilayah Indonesia, sehingga akan terus dipantau selama dua sampai tiga hari mendatang. Dia berharap siklon ini tidak masuk ke Indonesia, sehingga tidak mempengaruhi curah hujan. Selanjutnya, di Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur terpantau bibit siklon 93S. Di selatan Papua terpantau bibit siklon 95S.

Faisal mengatakan, keberadaan bibit siklon dan siklon ini meningkatkan kondisi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Selain itu, juga meningkatkan potensi gelombang tinggi di perairan sekitar.

“Kami sudah menyampaikan, bekerja sama dengan BNPB, BPBD, serta Basarnas, untuk masyarakat tetap tenang selama kita dapat memantau kondisi dan selalu bersiap untuk curah hujan tinggi dan gelombang tinggi,” tegasnya.

Dia pun memastikan Indonesia tidak sendirian menghadapi kepungan tiga siklon ini. Faisal memaparkan Indonesia telah ditunjuk oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) sebagai “Tropical Cyclone Warning Center”.

Indonesia terus berkomunikasi dengan Australia, Jepang, dan India untuk menentukan kondisi siklon tropis Bakung yang sekarang mendekat ke arah Indonesia. “Bahkan sempat tercatat pada 14 Desember dia (siklon Bakung) masuk ke kategori 3, dengan kecepatan angin mencapai 65 knot. Ini sangat berbahaya, tapi turun lagi ke kategori 2 dan sekarang harapannya sudah mendekat ke kategori 1,” katanya.

BMKG juga mengungkapkan modifikasi cuaca dilakukan di enam titik, mulai Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, mengingat Indonesia akan memasuki puncak musim penghujan pada Januari-Februari 2026.

Curah hujan akan meningkat signifikan di sejumlah daerah seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Selain itu, terdapat tiga siklon dan bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia, yaitu siklon Bakung, bibit siklon 93S, dan bibit siklon 95S. Ketiganya berpotensi menyebabkan hujan ekstrem. Faisal menyebut, modifikasi cuaca mampu menurunkan curah hujan hingga 20-50 persen.

Tingkatkan Kewaspadaan

Anggota Komisi VIII DPR, Sandi Fitrian Noor, mendesak pemerintah seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional secara komprehensif.

Dia menyampaikan bahwa data terbaru dari BMKG, mengidentifikasi 14 zona merah megathrust serta peringatan cuaca ekstrem yang berpotensi berlanjut hingga Januari 2025. “Data dari BMKG ini bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dijadikan dasar kesiapan kita yang lebih matang,” kata Sandi di Jakarta, Selasa (16/12).

Menurut dia, Indonesia berada berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire dengan pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Menurut dia, data terbaru BMKG yang mengidentifikasi 14 zona merah megathrust adalah alarm keras bagi semuanya baik pemerintah maupun masyarakat.

Untuk mendeteksi hal itu, BMKG telah memasang lebih dari 10 ribu detektor untuk memantau kondisi cuaca, gempa, hingga tsunami. Ribuan alat ini dipantau oleh unit pelaksana teknis (UPT) BMKG lewat stasiun-stasiun yang tersebar di 191 daerah di Indonesia.

Kepala BMKG menuturkan berdasarkan pemantauan, sepanjang 2025 ini tercatat lebih dari 40.000 gempa di Indonesia. Sebanyak 917 gempa di antaranya dirasakan warga dengan 24 di antaranya bersifat merusak.“Ini terpantau di UPT-UPT BMKG, stasiun-stasiun yang tersebar di 191 daerah di Indonesia, dengan 10 ribu lebih alat yang memantau kondisi cuaca serta gempa dan tsunami,” kata Faisal. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.