13 Orang Tewas dalam Bentrokan di Wilayah Komunitas Pribumi Guatemala
📅 Senin, 15 Des 2025, 09:23 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP
GAUTEMALA CITY - Bentrokan di kota Nahuala, Guatemala, yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat adat, menewaskan 13 orang, kata walikota kepada AFP, Minggu (14/12).
Ketegangan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir di daerah tersebut, sekitar 150 kilometer (93 mil) sebelah barat ibu kota, Guatemala City, mendorong Presiden Bernardo Arevalo menyatakan keadaan darurat khusus.
Nahuala dan komunitas Maya tetangganya, Santa Catarina Ixtahuacan, terlibat dalam sengketa perbatasan selama seabad, yang telah menewaskan beberapa orang dalam beberapa tahun terakhir.
Arevalo mengklaim bahwa kelompok-kelompok kejahatan terorganisir memicu kekerasan di wilayah tersebut dalam upaya untuk mendorong penarikan tentara.
"Tiga belas orang tewas secara brutal dalam penyergapan yang dilakukan oleh tentara Guatemala dan orang-orang dari Santa Catarina Ixtahuacan," kata walikota Nahuala, Manuel Garchaj, kepada AFP melalui telepon.
Sebaiknya Anda baca juga:
Guarchaj mengatakan orang-orang yang tewas berusia antara 14 dan 70 tahun dan diserang saat bekerja di tambang lokal.
"Kami tidak mengarang apa pun di sini. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Guarchaj dalam panggilan telepon, ia membacakan nama-nama dan usia para korban.
Pemerintah mengumumkan hari berkabung selama dua hari di Nahuala, di mana pemakaman sudah berlangsung pada hari Minggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, Arevalo mengumumkan dalam konferensi pers bahwa ia menyatakan "keadaan darurat" selama 15 hari di departemen Solola -- tempat kedua komunitas tersebut berada.
Perintah tersebut memungkinkan pembatasan hak-hak tertentu di daerah tersebut, seperti kebebasan berkumpul dan berdemonstrasi.
"Kita berada pada momen kritis bagi departemen Solola dan bagi keamanan di negara ini," kata Arevalo.
"Kelompok-kelompok kriminal" memiliki tujuan yang jelas, "untuk menguasai wilayah tersebut sehingga mereka dapat beroperasi secara bebas dan terus melakukan pemerasan dan kegiatan ilegal," katanya.
Ia menuduh kelompok-kelompok kejahatan terorganisir yang tidak disebutkan namanya "dengan sengaja memanfaatkan konflik antar-komunitas."
Arevalo mengatakan bahwa awal pekan ini, kelompok-kelompok kriminal menyerang pos militer selama lebih dari 10 jam dengan senjata kaliber tinggi, melukai tujuh orang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!