Pakar UGM Jelaskan Akar Masalah Banjir Bandang Sumatera: Dari Lereng Curam, Krisis Hutan, hingga Anomali Siklon
Jumat, 05 Des 2025, 13:30 WIBJAKARTA - Gelombang air bercampur material kayu, lumpur, dan bongkahan tanah yang menerjang pemukiman warga di Sumatera pekan lalu kembali mengungkap rapuhnya kondisi ekologis dan geologis pulau tersebut. Meski tampak terjadi tiba-tiba, para ahli menegaskan bahwa banjir bandang itu merupakan akumulasi persoalan lamaâmulai dari karakter geomorfologi, degradasi hutan, hingga tekanan iklim ekstrem yang terus meningkat.
Dalam forum Pojok Bulaksumur pada Kamis (4/12), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa struktur alam Sumatera memang membuat wilayah ini sangat rentan terhadap limpasan air dalam skala besar. Lereng-lereng curam yang membentang dari Aceh hingga Lampung mengalirkan air langsung ke dataran rendah, sementara banyak permukiman berdiri di zona kipas vulkanikâwilayah yang secara alami menjadi jalur aliran air dan material saat hujan deras.
âDengan pola seperti itu, hujan deras pasti membawa material dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi,â kata Hatma, dikutip dari Universitas Gadjah Mada, Jumat (5/12). Ia menekankan bahwa kerusakan ekologis memperparah situasi. Pembukaan lahan di hulu, alih fungsi hutan, dan permukiman yang merangsek ke dataran tinggi membuat tanah kehilangan kemampuan menahan air. Akibatnya, seluruh volume air mengalir serentak ke sungai dan memicu banjir bandang.
âPara pihak yang menjadi kontributor dosa ekologis itu sudah saatnya berhenti,â tegasnya.
Hatma memaparkan bahwa dalam kondisi hutan yang sehat, sepertiga air hujan dapat tertahan di tajuk pohon dan sebagian besar meresap ke tanah sebelum mencapai permukaan. Ketika tutupan hutan hilang, neraca air berubah drastis dan debit puncak sulit dikendalikan. âDebit puncaknya pasti meningkat tajam,â ujarnya.
Sementara itu, mantan Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., menilai perubahan iklim memperbesar risiko tersebut berkali-kali lipat. Menurutnya, kenaikan suhu global 1,55°C telah memicu peningkatan kejadian hujan ekstrem, dan tanpa langkah mitigasi serius, angka tersebut bisa mencapai 3,5°C di akhir abad. âKalau mitigasi ekologinya dilewatkan, kita bisa musnah,â ujar Dwikorita.
Ia juga menyoroti struktur geologi Sumatera yang sangat labil. Batuan yang naik dari dasar laut akibat tumbukan lempeng dalam kondisi retak-retak sehingga mudah longsor bahkan oleh guncangan gempa kecil. Longsoran ini kemudian membentuk bendungan alam di sungai yang sewaktu-waktu dapat jebol. âRetakan-retakan itu membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gerakan tanah,â tuturnya.
Risiko bertambah besar ketika anomali siklon tropis mulai sering muncul di wilayah Indonesia. Siklon yang biasanya berkembang di area subtropis kini tumbuh di kawasan tropis dan bahkan melintasi daratan, membawa hujan intens selama beberapa hari. Fenomena ini memperpendek periode ulang bencana hidrometeorologi yang sebelumnya puluhan tahun.
Dwikorita menjelaskan bahwa anomali tahun ini bukan kejadian tunggal, melainkan lanjutan dari pola yang sudah terlihat sejak Siklon Seroja dan Cempaka. Siklon Senyar menjadi contoh terbaru, tumbuh di lokasi yang tidak lazim dan bergerak melintasi daratan hingga menuju Semenanjung Malaya. âIni anomali yang mengindikasikan perubahan iklim semakin mempengaruhi dinamika siklon di kawasan Indonesia,â ujarnya.
Para pakar sepakat bahwa tanpa pemulihan hutan di hulu, perbaikan tata ruang, serta mitigasi perubahan iklim yang konsisten, banjir bandang seperti yang terjadi di Sumatera akan semakin sering muncul dengan skala yang lebih merusak.
- Pakar UGM
- Universitas Gadjah Mada
- Banjir Sumatera Barat
- Banjir Sumatra
- banjir sumatera 2025
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan
Berita Terkait:
-
Antam Percepat Hilirisasi Bauksit Melalui Pengembangan Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II
-
H-2 Lebaran, Pasaman Barat Mulai Dipadati Pemudik
-
Menteri PU Tinjau Infrastruktur Terdampak Banjir Susulan di Aceh, Pastikan Akses Logistik ke Wilayah Gayo Lues Segera Terbuka
-
Pramuka Jatim Guyur Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera Rp 605 Juta
-
Tips Aman Berkendara Saat Mudik Lewat Jalur Puncak dari Polisi
-
Prabowo Setuju 125 Ribu Baju Reject Batal Ekspor Disalurkan ke Warga Terdampak Bencana
-
Amartha Soroti Pentingnya Kesehatan Finansial bagi UMKM dan Ekonomi Akar Rumput
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.