• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Amartha Soroti Pentingnya ...

Amartha Soroti Pentingnya Kesehatan Finansial bagi UMKM dan Ekonomi Akar Rumput

Rabu, 20 Mei 2026, 20:20 WIB

JAKARTA — Amartha menegaskan pentingnya kesehatan finansial atau financial health sebagai fondasi baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akar rumput yang inklusif dan berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan The 2026 Asia Grassroots Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”.

Forum yang akan digelar pada 3–4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta itu akan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor guna membahas masa depan ekonomi akar rumput di Indonesia dan Asia.

Ket. Foto: (Ki-ka) Aria Widyanto, Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha bersama Poppy Ismalina, Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada dan Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, dalam kegiatan Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta pada hari Rabu (20/5). — Sumber: Amartha

Menurut Amartha, perluasan akses keuangan kini tidak cukup hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga harus mampu menciptakan dampak yang lebih dalam terhadap ketahanan ekonomi masyarakat. Layanan keuangan digital dinilai perlu membantu pelaku usaha akar rumput, termasuk UMKM perempuan, dalam mengelola arus kas, menjaga keberlangsungan usaha, menghadapi risiko ekonomi, hingga membangun ketahanan finansial jangka panjang.

UMKM sendiri memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional maupun global. Secara global, UMKM mewakili lebih dari 90 persen entitas bisnis, menyerap sekitar 70 persen tenaga kerja, dan berkontribusi terhadap 50 persen produk domestik bruto (PDB).

Di Indonesia, lebih dari 65,5 juta UMKM pada 2025 tercatat menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen total angkatan kerja.

Meski demikian, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari keterbatasan akses permodalan, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha.

Berdasarkan data CELIOS, akses permodalan masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, mengatakan fintech termasuk layanan peer-to-peer lending dapat menjadi solusi untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan UMKM secara lebih cepat dan tepat.

“Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Nailul.

Tantangan tersebut dinilai semakin relevan bagi UMKM perempuan yang kerap menjalankan peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga.

Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Poppy Ismalina, menilai pemberdayaan ekonomi perempuan perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui akses permodalan.

“Perempuan yang mendapatkan solusi keuangan yang sesuai dapat lebih percaya diri dalam mengelola kebutuhan keluarga, kesehatan finansial, dan keberlanjutan usahanya,” kata Poppy.

Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan keberhasilan inklusi keuangan kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Keberhasilan tersebut juga harus dilihat dari kemampuan masyarakat bertahan dan mencapai kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi.

“Membangun kesehatan finansial membutuhkan partisipasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Aria.

Ia menurutkam, selama lebih dari 16 tahun beroperasi, Amartha mengaku terus mendukung pertumbuhan ekonomi akar rumput melalui pembiayaan produktif, pendampingan lapangan, dan pemanfaatan teknologi.

Berdasarkan Amartha Sustainability Report 2025, sebanyak 96 persen peminjam memperoleh keterampilan baru setelah bergabung dengan Amartha. Selain itu, 94 persen peminjam mengalami peningkatan pendapatan dan 91 persen mampu memisahkan arus kas usaha dengan keuangan rumah tangga.

Laporan tersebut juga mencatat 82 persen peminjam mulai rutin mencatat pemasukan dan pengeluaran, sementara lebih dari 90 ribu peminjam berhasil merekrut karyawan pertama mereka setelah memperoleh akses pembiayaan.

Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum, Amartha akan membahas sejumlah isu utama seperti pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech dan AI, serta kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ekosistem UMKM.

“Amartha mengajak mitra lintas sektor untuk berkontribusi mewujudkan solusi kesehatan finansial yang relevan dan dapat diterapkan secara luas,” terang Aria.

  • model peer to peer lending (P2P lending)
  • Fintech
  • UMKM
  • kecerdasan buatan (AI)
  • Universitas Gadjah Mada
  • Inklusi Keuangan
  • CELIOS
  • kesehatan finansial
  • UMKM Perempuan
  • Digital Lending
  • Amartha
  • financial health
  • ekonomi akar rumput
  • Asia Grassroots Forum
  • Aria Widyanto
  • Nailul Huda
  • Poppy Ismalina

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.