Warga Kolaka Didorong Maksimalkan Lahan untuk Perkuat Swasembaga Beras

Selasa, 25 Nov 2025, 13:17 WIB

KOLAKA – Upaya mencapai swasembaga beras pernah tercapai tahun 1983 era Soeharto. Kini semua harus membantu mencapai swasembada beras dengan memanfaatkan lahan kosong. Pemerintah Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), mendorong masyarakat agar mengoptimalkan lahan pertanian untuk mendukung program swasembada beras di wilayah Bumi Anoa.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka Dedi Tenroaji saat ditemui di Kolaka, Selasa, mengatakan bahwa luas sawah di Kabupaten Kolaka mencapai 10.151 hektar yang tersebar di 12 Kecamatan, yaitu kecamatan Watubangga, Baula, Kolaka, Latambaga, Polinggona,Pomalaa, Samaturu, Tanggetada, Toari, Wolo, Wundulako, dan Iwoimendaa.

Ket. Foto: menanam padi — Sumber: ist

"Paling banyak itu di Samaturu 1.500 hektare, dan paling sedikit di Toari 15 hektare," kata Dedi Tenroaji. Dedi menyebutkan bahwa lahan sawah seluas 10.151 hektar tersebut bisa memproduksi sekitar empat hingga enam ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP) para petani di wilayah itu. "Kalau GKP rata-rata petani di Watubangga sampai Iwoimendaa itu 4,4 ton per hektare," ujarnya.

Dalam mendukung program swasembada tersebut pihaknya berkomitmen untuk mengoptimalkan lahan yang ada dengan meningkatkan produksi pangan dan mendukung ketahanan pangan nasional. "Kami juga menyiapkan bantuan pupuk gratis untuk petani yang kurang mampu dan petani-petani penggarap juga akan disiapkan pupuk gratis," katanya.

Ia menjelaskan bahwa Kolaka termasuk salah satu dari 5 besar kabupaten dengan luas sawah terbesar di Sulawesi Tenggara, yaitu Konawe, Konawe Selatan, Kolaka Timur, Bombana, dan Kolaka. "Salah satu dari 17 kabupaten dan kota di Sultra Kolaka itu luasan sawahnya itu lima besar," ucap Dedi.

Selain itu, di Kolaka juga memiliki ketersediaan beras yang cukup di Bulog untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik di tengah potensi tingginya permintaan masyarakat di wilayah itu. "Stok beras kita Insya Allah aman. Tidak pernah ada orang Kolaka susah cari beras," jelasnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya juga merencanakan untuk melakukan revitalisasi penggilingan gabah guna membantu petani dalam menjual hasil pertanian di Kabupaten Kolaka.

Produksi Beras Tahun Depan 35 Juta Ton

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan target produksi beras nasional pada 2026 hampir 35 juta ton sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan dan menjaga keberlanjutan swasembada nasional. "Pada tahun depan Kementerian Pertanian menargetkan produksi komunitas utama beras mencapai 34,77 juta ton," kata Mentan Amran dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Senin.

Selain itu, Amran menyebutkan pada 2026 pemerintah juga menargetkan produksi jagung mencapai 18 juta ton, aneka cabai 3,08 juta ton, bawang merah 2 juta ton serta tebu 39,5 juta ton setara 2,8 juta ton gula. Selain itu, produksi kopi ditargetkan 786 ribu ton, kakao 633 ribu ton, kelapa 2,89 juta ton, daging sapi dan kerbau 514 ribu ton serta daging ayam mencapai 4,34 juta ton.

Dia menuturkan Kementerian Pertanian memperoleh alokasi anggaran Rp40,15 triliun pada tahun anggaran 2026 yang terdiri atas program ketersediaan akses pangan berkualitas Rp23,81 triliun, daya saing industri Rp6,62 triliun, pendidikan dan pelatihan Rp747 miliar, dan dukungan manajemen Rp8,96 triliun.

Amran menegaskan Kementan telah menyampaikan seluruh rencana anggaran kepada Kementerian Keuangan dan kini menunggu penetapan DIPA serta Perpres rincian APBN 2026 untuk memastikan program berjalan tepat waktu dan optimal.

Amran menjelaskan rencana kerja dan anggaran Kementerian Pertanian 2026 disusun untuk mendukung tema nasional mengenai kedaulatan pangan, energi, serta ekonomi produktif dan inklusif.

Ia menekankan fokus utama program Kementerian Pertanian adalah peningkatan produksi padi, jagung dan komoditas strategis lainnya melalui cetak sawah, optimalisasi lahan, penguatan irigasi, serta rehabilitasi kawasan konservasi secara terukur.

Penguatan penyiapan benih unggul, penyediaan alat dan mesin pertanian, pupuk bersubsidi, serta program penyuluhan dan regenerasi petani akan menjadi landasan penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian di seluruh Indonesia.

Dalam rapat itu, Amran menyebutkan berdasarkan data Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik (KSA BPS), produksi beras Januari-Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, meningkat 13,54 persen dari target yang diberikan 32 juta ton. "Jadi ada kenaikan 2,7 juta ton dari target yang diberikan (di 2025)," kata Mentan.

Menurutnya kenaikan produksi mencapai 2,7 juta ton tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kuat dalam memenuhi kebutuhan beras nasional sekaligus menjaga kestabilan harga di seluruh wilayah. Amran juga menyebut stok beras nasional pernah menyentuh angka 4,2 juta ton, yang menunjukkan peningkatan produksi jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal pemerintah pusat.

Sementara itu, berdasarkan proyeksi lembaga riset Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA), turut memperkuat optimisme karena memperkirakan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024-2025 mencapai 34,6 juta ton. Keyakinan serupa disampaikan Food and Agriculture Organization (FAO) yang memprediksi produksi beras nasional dapat menembus 35,6 juta ton pada 2025, menunjukkan swasembada semakin kuat dan berkelanjutan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.