Ranperda Kawasan Tanpa Rokok Dinilai Bisa Getarkan UMKM, DPRD DKI Himbau Soal Dampak ke Rakyat Kecil

Senin, 24 Nov 2025, 18:30 WIB

JAKARTA - Anggota Panitia Khusus (Pansus) Ranperda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, menegaskan bahwa regulasi KTR harus mengutamakan kesehatan masyarakat. Ia menilai aturan tersebut juga wajib berpihak pada keberlangsungan ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jakarta.

Menurut Ali, setiap kebijakan daerah harus mempertimbangkan dampak secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa kelompok ekonomi kecil merupakan tulang punggung perekonomian dan tidak boleh dikorbankan oleh kebijakan yang tidak matang.

Ket. Foto: — Sumber: DPRD DKI Jakarta

"Pemerintah harus memastikan adanya rencana transisi yang jelas," ujar Ali.

Rencana transisi tersebut mencakup analisis dampak ekonomi yang rinci serta tahapan implementasi yang realistis. Selain itu, program pendampingan bagi UMKM yang berpotensi terdampak juga harus disiapkan sejak awal.

"Program dukungan bagi usaha kecil yang mungkin terdampak oleh aturan ini," kata dia.

Ali menambahkan bahwa pendekatan berimbang sangat penting dalam penerapan kawasan tanpa rokok. Kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas tanpa mengabaikan mata pencaharian masyarakat kecil yang bergantung pada penjualan produk tembakau.

Ia menjelaskan bahwa pedagang kecil, warung tradisional, dan pelaku UMKM memiliki keterkaitan langsung dengan sektor konsumsi tembakau. Karena itu, perubahan aturan tanpa kajian sosial-ekonomi dapat memicu tekanan besar bagi para pelaku usaha tersebut.

Keberadaan pedagang kecil tidak boleh menjadi korban dari regulasi yang tidak mempertimbangkan efek lanjutan. Ali menegaskan bahwa kebijakan yang baik harus mampu melindungi semua pihak tanpa menambah beban baru.

"Kesehatan masyarakat tentu harus dijaga, tetapi ekonomi para pedagang kecil juga harus dilindungi," tandas dia.

"Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang seimbang, adil bagi semua pihak, proporsional, dan tidak memberatkan masyarakat," tambah Ali.

Menurutnya, persoalan UMKM bukan hanya soal administratif atau pelaporan usaha yang sederhana. Persoalan tersebut menyangkut kehidupan jutaan pelaku usaha dan keluarga yang menggantungkan pendapatan dari sektor informal.

Oleh karena itu, Ali menekankan bahwa setiap rancangan kebijakan harus melalui tahapan analisis sosial-ekonomi yang matang. Dengan begitu, kebijakan tersebut tidak menimbulkan gejolak atau tekanan tambahan di lapangan.

Belakangan ini, ia menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM yang merasa resah dengan potensi dampak Ranperda KTR. Mereka khawatir aturan tersebut dapat mengurangi pendapatan mereka secara signifikan.

"Pemerintah Provinsi dan DPRD tidak boleh terburu-buru dan harus hati-hati dalam mengesahkan sebuah peraturan yang berpotensi memberi tekanan tambahan kepada rakyat kecil," pungkas Ali.

Pelaku UMKM menilai bahwa aturan baru tersebut dapat mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis. Mereka berharap pemerintah mempertimbangkan seluruh aspek sebelum memutuskan langkah final.

Selain itu, Ali menilai bahwa proses penyusunan regulasi harus melibatkan kelompok yang berpotensi terdampak secara langsung. Dengan cara ini, implementasi kebijakan dapat berjalan lebih efektif tanpa menimbulkan tekanan sosial.

Pemerintah daerah diharapkan terbuka terhadap seluruh masukan dari masyarakat dan pelaku usaha. Keterlibatan publik dalam penyusunan kebijakan akan meningkatkan kepercayaan dan memastikan hasil kebijakan lebih komprehensif.

Ali juga mengingatkan bahwa Ranperda KTR tidak serta-merta hanya berdampak pada perokok atau fasilitas umum. Aturan tersebut dapat mempengaruhi rantai ekonomi yang lebih luas, termasuk pasokan, distribusi, dan konsumsi produk terkait.

Dengan memperhatikan keseluruhan ekosistem ekonomi, ia berharap regulasi KTR dapat dirumuskan dengan lebih bijak. Tujuannya adalah mencapai keseimbangan antara perlindungan kesehatan dan perlindungan ekonomi rakyat kecil.

Ia menegaskan bahwa langkah terburu-buru hanya akan menimbulkan keresahan yang tidak perlu. Karena itu, penyusunan Ranperda diharapkan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan analisis komprehensif.

Bagi Ali, keberhasilan regulasi tidak hanya diukur dari sisi kesehatan masyarakat. Regulasi yang ideal adalah yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM yang sangat rentan terhadap perubahan aturan.

Dengan berbagai masukan dan kekhawatiran yang muncul, pembahasan Ranperda KTR diperkirakan akan terus berjalan dengan dinamika tinggi. DPRD DKI diharapkan dapat mengambil keputusan yang tidak merugikan rakyat kecil dan tetap menjaga kepentingan kesehatan publik.

Pansus Ranperda KTR akan melanjutkan pembahasan secara detail untuk memastikan semua aspek diperhitungkan. Ali menegaskan bahwa ia akan terus mengawal proses tersebut agar regulasi yang dihasilkan benar-benar adil dan proporsional bagi seluruh warga Jakarta.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.