Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perbaikan Sektor Hulu Peternakan untuk Menekan Ketergantungan Impor

📅 Rabu, 19 Nov 2025, 23:25 WIB | Oleh:
Perbaikan Sektor Hulu Peternakan untuk Menekan Ketergantungan Impor Doc: Antara

Serang - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan fokus utamanya saat ini adalah membenahi sektor hulu atau perbibitan (breeding) sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor daging dan mendongkrak populasi ternak nasional.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Harry Suhada, di Serang, Rabu, mengatakan bahwa penguatan sektor hulu merupakan fondasi yang tidak bisa ditawar jika Indonesia ingin mencapai swasembada daging.

"Breeding itu fondasi, tidak bisa digantikan. Kalau hulu lemah, populasi tidak akan pernah naik," ujar Harry dalam diskusi mengenai peternakan di Ranca Bukit Waru Wangi, Kabupaten Serang, Banten.

Harry menjelaskan, pemerintah tengah menyusun skema insentif yang lebih kuat bagi para pelaku usaha peternakan. Langkah ini diambil untuk merangsang minat peternak melakukan pembibitan, mengingat saat ini Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan daging nasional.

Senada dengan hal tersebut, pengamat peternakan sekaligus Pendiri Ranca Bukit Waru Wangi, Siswono Yudo Husodo, mengingatkan bahwa kondisi populasi ternak, khususnya kerbau, sudah dalam status "SOS".

"Minat peternak melakukan breeding rendah karena dianggap kurang menguntungkan dibanding penggemukan. Tanpa insentif nyata seperti inseminasi buatan gratis dan akses lahan penggembalaan, populasi sulit tumbuh," katanya.

Siswono menambahkan, perbaikan hulu harus dibarengi dengan perubahan sistem budi daya. Ia menyarankan peralihan dari pola potong-angkut (cut and carry) ke sistem penggembalaan lepas (ranch) yang dinilai lebih efisien dalam menekan biaya pakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi protein hewani di Indonesia baru mencapai 10,5 kg per kapita per tahun, masih di bawah standar ideal 15 kg. Selain itu, populasi kerbau tercatat merosot tajam dari 2,4 juta ekor pada tahun 2000 menjadi 1,37 juta ekor pada 2022.

Pembenahan hulu yang dilakukan Kementan diharapkan mampu membalikkan situasi tersebut, mengingat Indonesia pernah mencatatkan sejarah sebagai eksportir sapi pada era 1970-an.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.