Usaha Berkelanjutan: Nelayan Batam Kembangkan Budidaya Ikan Bioflok di Pesisir

Sabtu, 15 Nov 2025, 19:15 WIB

BATAM – Penerapan sistem bioflok di kawasan pesisir menjadi strategi efektif untuk meningkatkan produktivitas perikanan sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Teknologi ini memungkinkan pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi melalui pengelolaan mikroorganisme yang mengubah limbah organik menjadi pakan alami, sehingga menekan biaya operasional dan mengurangi pencemaran perairan.

Ket. Foto: Unit bioflok untuk budidaya ikan tawar di Rempang Eco City Tanjung Banun, Batam, Kepri. — Sumber: ANTARA/HO-Diskan Batam

Bagi wilayah pesisir yang kerap menghadapi keterbatasan lahan dan tekanan ekosistem, bioflok menawarkan solusi budidaya yang lebih efisien, hemat air, dan ramah lingkungan.

Selain meningkatkan pendapatan pembudidaya, sistem ini juga mendukung ketahanan pangan lokal serta memperkuat ketangguhan ekonomi pesisir di tengah perubahan iklim dan degradasi ekosistem laut.

Dinas Perikanan (Diskan) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menyebut budidaya ikan sistem bioflok menjadi salah satu alternatif mata pencaharian baru bagi masyarakat pesisir selain menjadi nelayan.

Kepala Diskan Batam Yudi Admajianto mengatakan, program tersebut diharapkan memberi pilihan usaha baru untuk masyarakat.

“Budidaya ikan dengan teknologi bioflok bisa menjadi mata pencaharian alternatif selain sebagai nelayan yang fokus pada perikanan tangkap,” ujarnya saat dihubungi di Batam, Sabtu (15/11).

“Bantuan unit bioflok dari Diskan Batam dan pokir (pokok pikiran) dewan ada 137 unit di tahun ini. Namun untuk sebagian masih menunggu pengiriman pompa aerator,” tambahnya.

Yudi menyampaikan, jika seluruh bagian sudah tiba di Batam, kelompok budidaya ikan (pokdakan) dapat mulai menebar benih.

“Semoga minggu keempat November sudah siap semua,” kata dia.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Diskan Batam Cicik Kurniawati menjelaskan bahwa tahun ini terdapat 16 unit bantuan bioflok khusus untuk wilayah Rempang. Bantuan tersebut diberikan kepada tiga pokdakan.

“Di Rempang pembangunan unit bioflok sudah selesai, lalu juga sudah dilakukan penebaran benih, sekarang sudah mulai tumbuh dengan baik,” katanya.

Cicik menambahkan bahwa estimasi panen pertama untuk seluruh unit bioflok diperkirakan berlangsung pada April 2026.

Ia juga mengatakan bahwa program ini merupakan bantuan pertama yang diterima warga Rempang, setelah tahun sebelumnya tidak ada bantuan serupa.

“Lokasinya di dalam Rempang eco city, betul-betul di sebelah perumahan,” ujarnya.

Ia menyebut lokasi bioflok tersebut berada satu area dengan Kampung Nelayan Merah Putih di Tanjung Banun yang juga sedang dalam proses pembangunan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.