- Home
-
- Luar Negeri
-
- Thailand Sebut Masih Ada P...
Thailand Sebut Masih Ada Permusuhan dengan Kamboja
Rabu, 12 Nov 2025, 02:15 WIBBANGKOK - Militer Thailand pada Selasa (11/11) mengatakan permusuhan masih terjadi dengan Kamboja, sehari setelah Bangkok menangguhkan pelaksanaan perjanjian damai yang didukung Amerika Serikat (AS) terkait ledakan ranjau darat yang melukai empat tentara.
Kesepakatan tersebut, yang ditengahi oleh Presiden AS, Donald Trump, pada Oktober lalu, dimaksudkan untuk meredakan konflik yang mencapai puncaknya dengan bentrokan selama lima hari pada Juli yang menewaskan sedikitnya 43 orang dan menyebabkan sekitar 300.000 warga sipil di kedua belah pihak mengungsi.
Kedua belah pihak sepakat berdasarkan pakta tersebut untuk menarik senjata berat dari wilayah perbatasan dan memberikan akses bagi pemantau gencatan senjata. Thailand juga berjanji untuk memulangkan 18 tentara Kamboja yang ditawan.
Kamboja menyatakan situasi di perbatasan tetap tenang, namun tanggapan Thailand menunjukkan bahwa ketegangan kembali muncul dengan penangguhan implementasi pakta tersebut.
"Kebenaran telah menjadi jelas bahwa permusuhan masih ada," kata Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand (RTA), Pana Klaewblaudtuk, dalam sebuah pernyataan. "Tentara Thailand perlu menangguhkan deklarasi bersama untuk melindungi hak kami dalam membela diri," imbuh dia, mengacu pada pakta perdamaian tersebut.
Thailand kerap menuduh Kamboja memasang ranjau darat baru di sepanjang perbatasan mereka, yang melanggar Konvensi Ottawa yang melarang ranjau antipersonel.
RTA mengatakan empat tentara terluka akibat ledakan ranjau darat di Provinsi Sisaket pada Senin (10/11) lalu.
Katalis Utama
Ledakan ranjau yang melukai tentara Thailand merupakan katalis utama ketika ketegangan berkobar pada Juli lalu, yang memicu pertikaian teritorial lama atas beberapa kuil perbatasan yang berusia seabad.
Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya menyatakan penyesalannya atas terjadinya ledakan ranjau terbaru, tetapi menegaskan bahwa amunisi tersebut merupakan peninggalan konflik masa lalu.
"Setelah insiden tersebut, kedua pasukan militer di garis depan telah berkomunikasi satu sama lain dan hingga saat ini situasi tetap tenang," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa Kamboja tetap berkomitmen terhadap perjanjian damai yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada 26 Oktober lalu di bawah kesaksian dari Trump dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebagai ketua blok regional Asean.
Menyusul terjadinya ledakan ranjau terbaru, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, telah mengkonfirmasi bahwa ia akan menunda pembebasan pasukan Kamboja yang ditangkap, yang menjadi bagian utama rencana perdamaian.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow mengatakan kepada wartawan bahwa penangguhan pelaksanaan kesepakatan itu akan dilaporkan ke AS dan Malaysia.
"Penting juga bagi Kamboja untuk bertanggung jawab dengan menunjukkan penyesalan, berpartisipasi dalam penyelidikan, dan memastikan hal ini tidak terjadi lagi," kata menlu Sihasak.
Gencatan senjata antara Thailand-Kamboja secara umum telah berlangsung sejak 29 Juli. Namun para analis mengatakan pakta perdamaian komprehensif yang menyelesaikan sengketa wilayah di inti konflik masih amat rumit. AFP/I-1
- thailand
- cambodia
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Wamendagri Bima Arya Puji Kampung Bahagia Jambi: Soroti RT Punya Peran Krusial
-
Sekjen PBB Mengecam Meningkatnya ‘Aturan Kekerasan’ di Seluruh Dunia
-
Thailand Dikepung Banjir Terparah dalam Seperempat Abad
-
KPK Sebut Ada Permintaan agar SKPD Menangkan Perusahaan Fadia Arafiq
-
Pemkot Jaktim Segel Lapangan Padel Ilegal
-
Kapal Perang AS Kunjungi Pangkalan AL Kamboja
-
Lindungi Ternak di Jabar, Kementan Distribusikan 151 Ribu Dosis Vaksin PMK
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.