DME Resmi Jadi Kandidat Pengganti LPG, Pemerintah Yakin Hemat dan Efisien

Selasa, 11 Nov 2025, 19:15 WIB

JAKARTA - Dimethyl ether (DME) kini menjadi sorotan sebagai calon pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Pemerintah menilai DME mampu menjadi solusi strategis untuk menekan impor LPG sekaligus menghadirkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

DME merupakan senyawa eter paling sederhana yang mengandung oksigen dengan rumus kimia CH₃OCH₃. Zat ini berbentuk gas dan memiliki sifat pembakaran cepat, membuatnya ideal untuk digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA

Dari sisi karakteristik, DME memiliki kandungan panas sebesar 7.749 Kcal/kg, sedangkan LPG mencapai 12.076 Kcal/kg. Meski kandungan panasnya lebih rendah, massa jenis DME lebih tinggi, sehingga perbandingan energi antara DME dan LPG berada di kisaran 1 banding 1,6. Artinya, kebutuhan DME sedikit lebih banyak untuk menghasilkan panas yang sama dengan LPG.

Keunggulan lain dari DME adalah kesamaannya dengan LPG dalam hal infrastruktur. Pemerintah memastikan DME dapat menggunakan tabung, fasilitas penyimpanan (storage), dan sistem distribusi LPG yang sudah ada, tanpa perlu perubahan besar dalam rantai pasok energi.

Secara lingkungan, DME dinilai jauh lebih bersih. Gas ini mudah terurai di udara, tidak merusak lapisan ozon, dan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 20 persen. Bila LPG menghasilkan sekitar 930 kilogram COâ‚‚ per tahun, maka penggunaan DME bisa memangkasnya menjadi sekitar 745 kilogram COâ‚‚.

Kualitas pembakarannya pun unggul. DME menghasilkan nyala api biru yang stabil, tidak menimbulkan partikulat (PM), tidak mengandung sulfur, dan menghasilkan emisi NOx yang lebih rendah dibandingkan LPG. Hal ini membuatnya lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan sekitar dapur rumah tangga.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah melakukan uji terap pemakaian DME 100 persen di beberapa daerah seperti Palembang, Muara Enim, dan Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat mudah menyalakan kompor, warna nyala api stabil, serta pengendalian panas mudah dilakukan.

Dalam uji coba tersebut, waktu memasak menggunakan DME sedikit lebih lama, sekitar 1,1 hingga 1,2 kali dibandingkan LPG, namun tetap dinilai efisien karena tidak menimbulkan residu. Dengan kompor khusus DME, teknologi ini dinilai layak menggantikan LPG sepenuhnya di sektor rumah tangga.

Pemerintah berharap penggunaan DME dapat menjadi langkah nyata dalam hilirisasi energi nasional serta memperkuat kemandirian energi Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan impor LPG yang mencapai sekitar 7 juta ton per tahun, adopsi DME juga diharapkan menciptakan peluang industri baru dari hasil olahan batubara domestik.

Dengan potensi besar yang dimilikinya, DME diyakini tidak hanya menjadi substitusi energi, tetapi juga simbol transformasi Indonesia menuju energi bersih dan berdaulat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.