Bali–NTT–NTB Bergerak Serempak: Integrasi Pariwisata Balinusra Jadi Fokus Utama
Kamis, 06 Nov 2025, 19:00 WIBMATARAM â Daerah-daerah dapat saling melengkapi daya tarik wisata yang ada, menciptakan paket wisata terpadu yang lebih menarik bagi wisatawan dibandingkan dengan jika berdiri sendiri. Ini membantu menciptakan merek regional yang lebih kuat di pasar pariwisata global.
Kolaborasi memungkinkan daerah untuk berbagi infrastruktur, fasilitas, dan keahlian, sehingga mengurangi biaya pengembangan dan promosi pariwisata bagi setiap daerah secara individu.
Paket wisata regional yang terintegrasi mempermudah wisatawan untuk mengunjungi berbagai destinasi dalam satu perjalanan, sehingga meningkatkan total lama tinggal dan pengeluaran mereka di wilayah tersebut.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) bersama Pemerintah Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kerja sama pariwisata regional melalui program Bali Nusa Tenggara (Balinusra).
Sekretaris Dinas Pariwisata NTB Mukli menyampaikan bahwa kerja sama Balinusra telah diawali melalui sejumlah forum koordinasi dan kini difokuskan pada tiga provinsi yang memiliki potensi besar di sektor pariwisata.
"Langkah itu bukan untuk bersaing, tetapi untuk berkolaborasi dalam memajukan pariwisata kawasan," ujarnya dalam Bincang Kamisan, di ruang Command Center Kantor Gubernur NTB, Mataram, Kamis (6/11).
Mukli menjelaskan ada tiga bentuk integrasi utama yang dirumuskan, yakni integrated promotion tourism, integrated calendar of event, dan chain of destination.
Melalui integrasi promosi, pemerintah daerah membuat situs portal bersama yang menampung seluruh konten promosi, destinasi, dan daya tarik wisata.
Pada 2025, Bali Provincial Travel Fair (BPTF) juga digelar di NTB dan dikolaborasikan dengan Lombok-Sumbawa Travel Fair.
Dari aspek kalender wisata, ketiga provinsi menyusun jadwal kegiatan pariwisata secara terpadu yang diluncurkan pada Desember 2025 di Kantor Kementerian Pariwisata RI, Jakarta.
Sedangkan dalam konteks chain of destination, ketiga daerah yang tergabung dalam Kepulauan Sunda Kecil tersebut terhubung dalam satu jalur wisata terpadu, termasuk penyediaan homebase promosi pariwisata NTB di Sanur, Bali yang disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali.
Mukli menyebut inisiatif tersebut sejalan dengan tiga prioritas pembangunan NTB, yaitu pengentasan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan pembangunan destinasi berstandar dunia.
"Pariwisata menjadi hulu pembangunan daerah, sementara sektor-sektor lain akan menjadi hilir yang mendukung pengembangan pariwisata," ujarnya pula.
Lebih lanjut Mukli menilai bahwa sekitar 60 persen wisatawan mancanegara masih terpusat di Bali. Melalui integrasi Balinusra, NTB menargetkan dapat menarik setidaknya 30 persen dari jumlah wisatawan tersebut untuk berkunjung ke wilayah NTB maupun NTT.
Namun demikian, ia juga menyoroti sejumlah tantangan utama, di antaranya mahalnya harga tiket pesawat, keterbatasan konektivitas antarprovinsi, serta tingginya biaya transportasi laut.
"Kami berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memperluas rute laut, seperti Sanur-Nusa Penida-Mandalika dan mempertimbangkan subsidi perjalanan agar harga tiket dapat kembali ke kisaran Rp210 ribu sampai Rp250 ribu," katanya lagi.
Mukli menegaskan bahwa konsep Segitiga Emas Pariwisata antara Bali-NTB-NTT diharapkan menjadi kebijakan strategis nasional yang tidak hanya memperluas arus wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Kami optimis, kolaborasi itu menjadi model integrasi pariwisata baru di Indonesia bagian timur," ujarnya pula.
- pariwisata regional
- Balinusra
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.