Mengajarkan Remaja untuk Lestarikan Adat dan Tradisi Lewat Medsos

Selasa, 28 Jul 2026, 22:27 WIB

Jakarta - Kampung Adat Kuta di Ciamis, Jawa Barat, mengajarkan anak-anak melestarikan adat dan tradisi melalui media sosial (medsos) yang secara berkelanjutan dilakukan melalui Sekolah Budaya.

Pandu Budaya Kampung Adat Kuta Ade Koko Komara (27) menjelaskan, dalam upaya melibatkan generasi muda, tantangan terbesar adalah masuknya modernisasi dan penggunaan gawai. Namun, teknologi justru dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya. Anak-anak muda diajarkan membuat konten video, TikTok, dokumentasi budaya, hingga mempromosikan kampung melalui medsos.

Ket. Foto: Kesenian Gondang Lisung atau lebih dikenal sebagai Gondang Buhun yang ditampilkan oleh para remaja di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat, pada Minggu (26/7/2026). — Sumber: Antara

"Kami juga sempat memperoleh pelatihan dari kementerian mengenai penggalian potensi desa, penyusunan proposal, penggunaan email, serta dokumentasi digital. Modernisasi tentu tidak dapat dihindari dari kampung ini, meski sampai sekarang kita masih mempertahankan tradisi adat, yang terpenting itu bagaimana masyarakat memanfaatkannya secara bijaksana," katanya saat ditemui di Ciamis, Jawa Barat, Selasa.

Ia menjelaskan, sebagai pandu budaya, salah satu daya tarik yang ditawarkan kepada wisatawan yakni pengalaman hidup, tinggal, dan berinteraksi bersama masyarakat, termasuk bagaimana cara mereka menjaga lingkungan dengan tetap mempertahankan tradisi.

"Sekolah Budaya ini mengajarkan kearifan lokal secara langsung di lapangan. Materi disesuaikan dengan aktivitas masyarakat, misalnya mengikuti proses pembuatan gula aren bersama petani. Kegiatan dilaksanakan secara fleksibel sekitar dua hingga tiga minggu sekali dan diikuti oleh anak-anak serta remaja," tuturnya.

Ade Koko mengisahkan, Kampung Adat Kuta sempat mengalami terjadi kebakaran pada tahun 2025. Sejak saat itu, masyarakat mulai menyadari pentingnya digitalisasi dokumen agar arsip, proposal, dan penghargaan tetap tersimpan meskipun terjadi bencana.

Untuk memperluas promosi, Sekolah Budaya di Kampung Adat Kuta juga bekerja sama secara sukarela dengan kreator konten, pengguna Facebook Pro, YouTuber, dan pihak lain yang bersedia membantu memperkenalkan Kampung Adat Kuta tanpa biaya.

Koko, panggilan akrabnya, mengakui bahwa menjaga kampung adat sekaligus mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya merupakan tantangan besar. Saat kecil, ia sempat mempertanyakan mengapa rumah adat harus mempertahankan bentuk tradisional dan atap harus diganti setiap lima tahun.

"Namun, setelah memahami alasannya, saya menyadari bahwa rumah panggung merupakan hasil pengetahuan leluhur yang disesuaikan dengan kondisi tanah yang labil di Jawa Barat. Struktur rumah yang bertumpu pada batu membuat bangunan lebih tahan terhadap guncangan gempa dibandingkan bangunan permanen. Hal-hal itulah yang kami kenalkan kepada masyarakat melalui medsos, tradisi yang tetap kita jaga di era modernisasi," paparnya.

  • Jaga Adat dan Budaya

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.