Mentan Bangga 23 Provinsi Alami Deflasi Beras
Rabu, 05 Nov 2025, 16:05 WIBTANGERANG - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, bangga deflasi beras terjadi di 23 provinsi. Hal itu terjadi berkat sinergi bersama lintas sektoral dengan pengawalan disetiap kabupaten dengan tujuan kesejahteraan petani dan masyarakat.
"Tujuan kita menurunkan harga supaya masyarakat bahagia, dan itu sudah tercapai. Tapi kami tidak berhenti di sini. Kami bentuk tim pengawal harga di setiap kabupaten untuk memastikan stabilitas harga beras," ujar Amran, Rabu (5/11).
Tim tersebut, lanjut dia, terdiri atas unsur Kementerian Pertanian dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Kemudian Perum Bulog, serta aparat penegak hukum.
Tim bertugas melakukan operasi pasar, terutama di daerah dengan harga beras yang masih di atas rata-rata nasional.
"Operasi pasar tidak akan berhenti, bahkan saat panen raya nanti kita akan salurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, Red) ke daerah-daerah pegunungan yang bukan sentra produksi," ucap Amran.
Dengan sejumlah kebijakan dan kerja sama lintas sektor, dia mengaku optimistis sektor pertanian Indonesia tengah berada dijalur yang benar menuju kemandirian pangan.
"Ini adalah keberhasilan kita semua, bukan hanya Kementerian Pertanian, tapi seluruh anak bangsa. Dari Presiden, petani, hingga wartawan yang terus mengawal," kata Amran.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Oktober 2025, secara umum terjadi inflasi 0,28 persen. Namun kondisi sebaliknya justru terjadi pada komoditas beras yang mengalami deflasi sebesar 0,27 persen (month-to-month).
Kondisi itu berbeda dari tren dua tahun sebelumnya, yakni beras mengalami inflasi pada Oktober 2022 dan 2023. Sementara itu, deflasi pada Oktober 2025 tercatat lebih dalam dibandingkan September 2025.
Ini menunjukkan penurunan harga yang semakin signifikan di berbagai daerah. Secara nasional, sebanyak 23 provinsi mengalami deflasi beras, dengan tiga provinsi mencatat harga yang relatif stabil.
"Sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami inflasi beras. Terjadi deflasi beras pada Oktober 2025 lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya," ujar Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini.
Rata-rata harga beras dipenggilingan pada Oktober 2025 secara total turun 0,54 persen dari bulan sebelumnya. Jika dipilah menurut kualitas beras dipenggilingan, beras premium turun 0,71 persen dari bulan sebelumnya, sementara beras medium turun 0,46 persen dari bulan sebelumnya.
Bukan hanya di tingkat penggilingan, di tingkat grosir dan eceran pun komoditas itu pada Oktober 2025 mengalami deflasi dibandingkan bulan sebelumnya.
"Beras di tingkat grosir deflasi sebesar 0,18 persen, dan di tingkat eceran 0,27 persen secara month-to-month,â kata Pudji. ils/I-1
Berita Terkait:
-
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Standar Pelayanan SPBU di Aceh Jelang Ramadan 2026
-
PBB: Konflik di Sudan Selatan Sebabkan Hampir 280.000 Orang Mengungsi
-
Cabai rawit picu deflasi Jawa Timur
-
Perkuat Intervensi Gizi, Bapanas Akselerasi Implementasi Beras Fortifikasi
-
Korban Tanah Bergerak Kian Bertambah
-
Gerakan pangan murah Polres Indramaayu
-
Nasabah BPR Koperindo Dapat Kepastian, LPS Kucurkan Rp14,19 Miliar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.