Ketegangan Baru di LTS Desak Urgensi Pembahasan Kode Etik Asean-Tiongkok

Kamis, 23 Jul 2026, 02:45 WIB

MANILA – Para analis pada Rabu (22/7) menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan dan lonjakan insiden nyaris celaka di Laut Tiongkok Selatan (LTS) telah kian memperkuat urgensi untuk menyelesaikan kode etik yang telah lama tertunda antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) dan Tiongkok guna mencegah konfrontasi di masa mendatang.

Perhatian soal sengketa LTS ini yang kembali mencuat menyusul terjadinya konfrontasi terbaru antara Filipina dan Tiongkok di perairan yang disengketakan pada Senin (20/7) lalu dimana kedua pihak saling menuduh telah meningkatkan ketegangan.

Ket. Foto: Menlu Tiongkok, Wang Yi (kanan), saat menghadiri pembukaan pertemuan menteri luar negeri Asean dengan Tiongkok di Pasay, Metro Manila, pada Rabu (22/7). Sejumlah analis menyatakan bahwa ketegangan terbaru di LTS telah menambah urgensi untuk menyelesaikan kode etik antara Asean dan Tiongkok. — Sumber: AFP/Rolex DELA PENA

Para pejabat Filipina mengatakan salah satu personel angkatan laut mereka terkena benturan di kepala selama bentrokan tersebut, sementara Beijing menuduh Manila memprovokasi insiden itu. Bentrokan di dekat Second Thomas Shoal itu sendiri kemudian telah mendorong kedua negara untuk memanggil duta besar masing-masing.

Analis kebijakan luar negeri dan keamanan yang juga menjabat sebagai presiden Asosiasi Studi Tionghoa Filipina, Lucio Blanco Pitlo III, mengatakan Filipina, ketua Asean tahun ini, berupaya mendapatkan dukungan regional yang lebih luas untuk mempercepat negosiasi mengenai kode etik.

Ia menambahkan bahwa negara-negara pesisir lainnya juga memiliki kepentingan yang sama dalam menegakkan ketertiban berbasis aturan di laut dan mencegah insiden di masa mendatang.

“Akhir-akhir ini kita telah menyaksikan peningkatan insiden nyaris celaka, bentrokan, dan saling unjuk kekuatan, dan dinamika semacam ini sangat berisiko,” kata Pitlo. “Risikonya sangat tinggi jika terjadi kecelakaan, dan saya pikir ini adalah salah satu pendorong utama dalam negosiasi untuk menyelesaikan kode etik tersebut,” imbuh dia.

Konfrontasi terbaru ini terjadi hanya selang sepekan setelah Filipina memperingati ulang tahun ke-10 putusan arbitrase LTS yang menguntungkan negara tersebut. Manila sejak lama memandang putusan tersebut sebagai jalan damai dan legal untuk menyelesaikan atau setidaknya mempersempit sengketa di LTS, kata Pitlo, yang juga merupakan peneliti di lembaga think-tank Asia-Pacific Pathways to Progress Foundation yang berbasis di Manila.

Namun Pitlo juga menekankan bahwa rancangan kode etik yang diusulkan, yang bertujuan untuk menetapkan aturan antara Asean dan Tiongkok guna mencegah insiden maritim meningkat menjadi krisis, akan melayani kepentingan bersama umum semua pihak.

“Sangat penting bagi (Manila dan Beijing) untuk terus berdialog karena hubungan mereka yang bergejolak tidak hanya mempengaruhi aspek keamanan, tetapi juga, sayangnya, sebagian dari pertukaran antar masyarakat dan ekonomi antara kedua belah pihak,” ucap dia.

Pitlo pun mengatakan bahwa keterlibatan yang berkelanjutan memberikan kesempatan untuk menghentikan pusaran penurunan dalam hubungan, menstabilkan isu LTS yang bergejolak, dan setidaknya mencegah pertemuan yang tidak diinginkan mencapai krisis diplomatik.

Keterlibatan AS-Tiongkok

Konflik terbaru di LTS ini telah membayangi Pertemuan Menteri Luar Negeri Asean pekan ini di Manila, yang juga dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.

Pada Senin, AS mengutuk tindakan berbahaya dan agresif Tiongkok di LTS menyusul bentrokan dengan Angkatan Laut Filipina.

Terlepas dari insiden tersebut, para analis percaya bahwa Washington DC dan Beijing akan berupaya mengelola perbedaan mereka tanpa membiarkan perbedaan tersebut menggagalkan upaya yang lebih luas untuk menstabilkan hubungan.

Di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri Asean pada Rabu, Menlu Rubio bertemu dengan Menlu Wang.

“Pertemuan tersebut mencerminkan niat kedua belah pihak untuk menjaga komunikasi tingkat tinggi tetap berjalan meskipun ada perbedaan pendapat,” kata Lim Tai Wei, seorang profesor di Universitas Soka.

“Ini adalah momen yang tepat di mana para diplomat top dari kedua negara adidaya berada di tempat yang sama pada waktu yang sama,” imbuh dia seraya menambahkan bahwa pertemuan tersebut melanjutkan momentum yang tercipta ketika Presiden AS, Donald Trump, dan mitranya dari Tiongkok, Xi Jinping, bertemu di Beijing pada Mei lalu.

“Tampaknya ada penataan ulang dan stabilisasi hubungan antara kedua negara adidaya. Kita lihat apakah kemungkinan besar akan ada interaksi semacam ini berlanjut, dan agar interaksi ini berlanjut, citra positif harus dijaga,” kata Lim. CNA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: CNA

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.