Kolaborasi dan Kemitraan Internasional, Daya Penggerak Atasi Sampah Laut di Indo-Pasifik
Rabu, 05 Nov 2025, 23:58 WIBJAKARTA- Kolaborasi dan kemitraan internasional akan menjadi daya gerak dalam mengatasi sampah laut di Indo Pasifik. Kolaborasi itu akan menjadi ajang untuk saling berbagi pengetahuan, sehingga bisa sampai pada satu kesadaran bersama untuk mewujudkan laut yang sejahtera melalui kemitraan global demi masa depan yang berkelanjutan
Hal itu yang mendorong The Habibie Center (THC) dan Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan meluncurkan kerja sama bertajuk âIndonesia Marine Debris Management Cooperation Projectâ (Proyek Kerja Sama Tata Kelola Sampah Laut di Indonesia).Â
Kerja sama itu diwujudkan dalam bentuk Memorandum of Agreement (MoA) yang sebelumnya diluncurkan di Taipei, Taiwan pada 15 September 2025 di Taipei, Taiwan.
Sebagai tindak lanjut atas komitmen kerja sama tersebut, implementasi âProyek Kerja Sama Tata Kelola Sampah Laut di Indonesiaâ secara resmi diluncurkan pada 5 November 2025.
Kerja sama itu meliputi penyelenggaraan lokakarya internasional dan penelitian bersama terkait tata kelola sampah laut di kawasan Indo-Pasifik. Lokakarya akan diselenggarakan pada 6 November 2025 dan melibatkan pembicara dari Indonesia, Jepang, Filipina, dan Taiwan. Sedangkan, penelitian bersama akan membahas kolaborasi internasional di bidang teknologi dan inovasi manajemen sampah plastik yang rencananya diterbitkan melalui ASEAN Briefs, sebuah kanal publikasi di bawah THC.
Peluncuran implementasi kerja sama di Indonesia dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pembina THC, Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, M.B.A., dan Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC, Lee Shan Ying, Ph.D.
Dalam sambutan pembukanya, Ilham menggarisbawahi pentingnya meningkatkan kesadaran publik akan isu sampah laut dan dampaknya terhadap keberlangsungan ekosistem maritim. Ia menekankan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk semua pihak yang terlibat dalam tata kelola sampah laut melalui kerja sama internasional dan penguatan sinergi lintas sektor.
Sementara itu, Lee Shan Ying menyatakan bahwa sebagai masyarakat maritim, Taiwan menyadari pentingnya upaya integrasi sumber daya di antara berbagai pemangku kepentingan dengan menjadikan kemitraan internasional sebagai daya penggerak di kawasan Indo-Pasifik.
âKerja sama antara THC dan OAC merupakan manifestasi dari visi Taiwan untuk mewujudkan laut yang sejahtera melalui kemitraan global demi masa depan yang berkelanjutan,â kata Ying.Â
Ia juga menegaskan bahwa laut tidak mengenal batas, sehingga tanggung jawab untuk melindunginya juga tidak seharusnya dibatasi oleh batas wilayah.
Mikro PlastikÂ
Sementara itu, Profesor Riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Muhammad Reza Cordova, menyatakan bahwa sampah laut dari wilayah Indonesia ditemukan telah hanyut ke wilayah lain, seperti Samudera Hindia dan mencapai benua lain seperti Benua Afrika.
Sebab itu, upaya untuk menghadapi sampah plastik membutuhkan solusi komprehensif untuk mengatasi sampah dari hulu ke hilir. Sinergi multipihak merupakan faktor kunci dari kesuksesan pengelolaan sampah laut di Indonesia.Â
Ia juga menekankan pentingnya untuk memahami berbagai temuan baru yang hadir sebagai konsekuensi sampah plastik laut, seperti adanya jejak mikro plastik di berbagai wilayah laut di Indonesia. Kerja sama di antara THC dan OAC ditujukan untuk menyinergikan upaya pengembangan kapasitas pengelolaan sampah laut di Indonesia dengan kapasitas dan pengalaman Taiwan dalam meningkatkan kualitas tata kelola sampah.
Kerja sama ini pun dilandasi oleh keselarasan lanskap geografis Indonesia dan Taiwan sebagai wilayah kepulauan dan maritim yang menjadi zona tangkapan sampah laut di kawasan Indo-Pasifik.
Melalui berbagai aktivitas seperti lokakarya dan publikasi riset, kerja sama itu diharapkan dapat mendorong terbentuknya skema kerja sama yang dapat diamplifikasi secara multipihak pada tingkat kawasan di Indo-Pasifik. Oleh karena itu, The Habibie Center mengajak mitra nasional dan internasional dari berbagai sektor untuk bergerak bersama dalam mendukung upaya penanganan sampah plastik laut.
Timbulan Sampah
Mengutip data pemerintah melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (2024), timbulan sampah dari 334 kabupaten/kota seluruh Indonesia mencapai 36,5 juta ton per tahun dengan presentasi sampah tidak terkelola mencapai 67,54 persen setara dengan 24,6 juta ton per tahun dan hanya 32,46 persen setara dengan 11,9 juta ton per tahun. Sedangkan berdasarkan data dari World Economic Forum (2020), Indonesia menghasilkan sampah plastik sebesar 6,8 juta ton per tahun dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5 persen per tahun.Â
Dari total 6,8 juta ton plastik yang dihasilkan, hanya 10 persen yang diolah kembali (recycled), 5 persen dibuang ke tempat pembuangan ilegal, 9 persen dibuang ke tempat pembuangan akhir, 20 persen dibuang ke tempat pembuangan terkelola meskipun keseluruhannya berakhir di insinerator, 47 persen dibakar dalam skala rumah tangga, dan 9 persen sisanya berakhir ke badan air seperti sungai, danau, dan laut.Â
Aliran sampah plastik ke badan air diperkirakan meningkat sebesar 30 persen dari tahun 2017 sampai 2025 atau sekitar 0,62 sampai 0,78 juta ton pada 2017-2025.
- Biota Laut
- Berkolaborasi
- indo pasifik
- Selat Taiwan
- Biodiversitas
- Sampah Laut
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Vitto Budi
Berita Terkait:
-
Pasien Aritmia Hendak Mudik? Simak Panduan Pakar agar Perjalanan Tetap Aman
-
Detroit Pistons Tumbangkan Minnesota Timberwolves 113-108
-
ICC Ungkap Eks Presiden Duterte Izinkan Pembunuhan
-
Geger Prostitusi Online Bali, Tiga Ratu Konten Pornografi X dan Telegram Diciduk Polisi
-
Bandung Tembus 3 Besar Destinasi Wisata Asia versi Agoda
-
Petugas gagalkan penyelundupan miras di Pelabuhan Ternate
-
Tiongkok Protes Keras Kapal Militer Jepang Melintasi Selat Taiwan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.