Apindo Sorot Tiga Pilar Baru: Ekonomi Digital, Hijau, dan Hilirisasi Jadi Penentu Arah 2026
Rabu, 05 Nov 2025, 19:10 WIBJAKARTA â Ekonomi digital, hijau, dan hilirisasi diperkirakan menjadi tiga motor utama pertumbuhan Indonesia tahun depan.
Transformasi digital terus memperluas efisiensi dan akses pasar, sementara ekonomi hijau menawarkan peluang investasi baru seiring meningkatnya komitmen terhadap keberlanjutan.
Di sisi lain, percepatan hilirisasi industri diharapkan memperkuat nilai tambah ekspor dan ketahanan ekonomi nasional.
Sinergi ketiganya dinilai mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berorientasi jangka panjang.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan tiga sektor yakni ekonomi digital, ekonomi hijau, dan hilirisasi menjadi perhatian pada tahun depan.
"Tiga sektor yang harus jadi perhatian kita pada tahun depan yaitu pertama ekonomi digital," ujar Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11).
Menurut Shinta, tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80 persen dan jumlah perusahaan rintisan (startup) sudah sangat besar, sehingga kedua faktor tersebut dapat mendorong ekonomi digital sebagai salah satu penyangga perekonomian nasional.
"Kelihatan bahwa memang (ekonomi digital) ini menjadi salah satu penyangga kita," katanya.
Sektor kedua yang perlu menjadi perhatian pada tahun depan adalah ekonomi hijau.
"Kita bicara ekonomi juga mulai dari transisi energi jadi energi terbarukan, kita mulai ke ekonomi sirkuler," kata Shinta.
Kemudian, pekerjaan yang mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan (green jobs) diproyeksikan dapat menciptakan jutaan lapangan pekerjaan sampai 2045.
Di samping itu, kontribusi ekonomi hijau terhadap PDB itu diperkirakan bisa mencapai Rp600 triliun, sehingga hal ini juga harus menjadi perhatian.
"Dan yang ketiga adalah hilirisasi. Hilirisasi ini memang kunci," kata Shinta.
Menurut dia, hilirisasi jangan hanya berfokus pada mineral penting (critical minerals) dikarenakan hilirisasi yang besar juga terdapat pada sektor pertanian dan aquaculture seperti rumput laut.
"Rumput laut ini besar sekali potensinya dan bakal menjadi crude palm oil (CPO) berikutnya bagi Indonesia, karena peluangnya besar," katanya.
Shinta menambahkan dengan 28 komoditas hilirisasi maka hal ini akan menjadi kontribusi besar untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun depan.
Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat adanya lonjakan investasi di sektor hilirisasi yang mencapai Rp150,6 triliun atau naik 64,6 persen secara tahunan di periode yang sama (year on year/yoy).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan investasi yang masuk ke sektor hilirisasi ini berkontribusi 30,6 persen terhadap total investasi triwulan III yang mencapai Rp491,4 triliun.
Adapun investasi hilirisasi terbesar berasal dari mineral yang mencapai Rp97,8 triliun, hilirisasi perkebunan dan kehutanan Rp35,9 triliun, investasi hilirisasi sektor minyak dan gas bumi Rp15,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,5 triliun.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BGN Setop Sementara 1.256 SPPG di Indonesia Timur Tanpa IPAL dan SLHS
-
Dorong Ekonomi Hijau, IRT Denpasar Sulap Sampah Dapur Jadi Pupuk Anggrek
-
Kirim Paket Makin Praktis, J&T Express Kini Hadir di Aplikasi MyTelkomsel
-
Jadi Seru, GoPay Spiker Hadirkan Lebih Banyak Pilihan Suara Notifikasi
-
Green Financing Dibuka! Proyek Hijau RI Kini Gampang Dapat Modal, ESG-IN Gandeng IDCTA
-
LA Lakers Menang Tipis 105-104 atas Orlando Magic
-
Persib Temui Dubes Prancis Pererat Hubungan Negara Melalui Sepak Bola
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.