Indonesia Raih Pengakuan FAO Lewat Agroforestri Salak Bali
Senin, 03 Nov 2025, 01:00 WIBJakarta - Indonesia untuk pertama kalinya menerima penghargaan sertifikat Sistem Warisan Pertanian Penting Global (Globally Important Agricultural Heritage Systems/GIAHS) dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas keberhasilan menerapkan sistem agroforestri berkelanjutan di sentra produksi salak di Kabupaten Karangasem, Bali.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Deputi Direktur-Jenderal FAO Godfrey Magwenzi kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia Muhammad Taufiq Ratule.
âPemerintah Indonesia berkomitmen menjaga dan mengembangkan lanskap warisan pertanian ini agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat ketahanan sistem pangan, serta menjadi ruang pembelajaran bagi pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal,â ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (2/11).
Ia mengatakan sistem agroforestri salak Karangasem adalah hasil kerja bersama petani, lembaga desa adat, akademisi, pemerintah daerah dan pusat, serta FAO.
Kabupaten Karangasem dikenal sebagai sentra salak terbesar di Bali, dengan produksi 24.972 ton pada tahun 2024. Sistem tersebut melibatkan sekitar 2.800 petani di Desa Adat Sibetan yang menjaga lebih dari 12 varietas lokal salak.
Aturan adat setempat (awig-awig) melindungi lahan pertanian dari alih fungsi serta membatasi penjualan lahan kepada pihak luar, memastikan keberlanjutan sistem agroforestri secara turun-temurun.
âKami menyambut kolaborasi internasional, berbagi pengetahuan, serta dukungan teknis untuk memperkuat GIAHS di Indonesia dan mendorong penetapan situs GIAHS lainnya di masa mendatang,â kata Muhammad Taufiq Ratule.
Pengakuan Global
Sekretaris Daerah Karangasem I Ketut Sedana Merta menyebut pengakuan global tersebut sebagai penghormatan terhadap pengetahuan leluhur dan pengelolaan lahan yang telah menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan selama berabad-abad.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat membuka peluang kolaborasi internasional, memperkuat kemitraan publik-swasta-komunitas dalam agrowisata, pengembangan produk turunan, riset pertanian, dan konservasi keanekaragaman hayati.
âDi tengah tantangan alih fungsi lahan, menurunnya minat generasi muda dalam bertani, serta perubahan iklim, pengakuan GIAHS ini menjadi dorongan untuk terus berinvestasi pada petani dan praktik berkelanjutan mereka,â ucap I Ketut Sedana Merta.
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal menegaskan pentingnya GIAHS sebagai model ketahanan iklim dan transformasi sistem pangan.
âKomunitas di berbagai wilayah Indonesia memiliki sistem pertanian tradisional berharga yang dapat menjadi solusi adaptasi iklim. FAO siap mendukung Indonesia menjaga situs GIAHS pertamanya dan mendorong penetapan situs-situs berikutnya,â tutur Rajendra Aryal.
Dalam GIAHS Award Ceremony 2025 yang digelar di Roma, Italia, sistem agroforestri salak Bali ditetapkan sebagai salah satu dari 28 sistem warisan pertanian baru dari 14 negara, termasuk Brazil, China, Ekuador, Iran, Italia, Jepang, Korea, Meksiko, Maroko, Spanyol, Thailand, dan Tunisia.
- Agroforestri
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
100 Desainer Ramaikan Ajang Mode Jakarta Fashion Week 2026
-
Terkait Kasus Horor MBG, Badan Besar Labkesmas Makassar Siap jika Diminta Memeriksa SPPG
-
Pilot Project HPV DNA Sampling Mandiri Targetkan 5.500 Warga Surabaya
-
Sembilan Wakil Indonesia Maju ke Babak 16 Besar Malaysia Masters 2025
-
Anda Warga Tangerang? Pemkab Buka Pendaftaran Mudik Gratis "Online" Kuota Hanya 2.800 Orang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.