• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • IdeaTalks 2025 Bahas Dampa...

IdeaTalks 2025 Bahas Dampak AI bagi Industri Kreatif: Ancaman atau Peluang Baru?

Senin, 03 Nov 2025, 19:35 WIB

JAKARTA – Perkembangan teknologi di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, penetrasi internet nasional telah mencapai 80,66% atau setara 229,4 juta pengguna.

Selain itu masyarakat Indonesia juga tercatat menghabiskan rata-rata lebih dari 40 jam per bulan menonton video pendek. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar konten digital terbesar di dunia.

Ket. Foto: Pada pembicara dalam ajang IdeaTalks bertajuk “The Impact of AI: Support or Threat for Creative Industry” dalam rangkaian festival kreatif IdeaFest 2025 yang diadakan Magnifique Indonesia pada hari kedua penyelenggaraan, pada hari Sabtu (1/11). — Sumber: Maqnifique Indonesia

Di tengah gelombang kemajuan teknologi yang semakin cepat, Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga katalis perubahan yang menginspirasi sekaligus menantang cara kita berkreasi, berinovasi, dan mengekspresikan diri di industri kreatif.

Menjawab fenomena ini, Magnifique Indonesia secara resmi menghadirkan sesi IdeaTalks bertajuk “The Impact of AI: Support or Threat for Creative Industry” dalam rangkaian festival kreatif IdeaFest 2025. Sesi ini berlangsung pada hari kedua penyelenggaraan, pada hari Sabtu (1/11).

Acara tersebut menghadirkan empat ahli di bidangnya masing-masing yakni Raline Shah (Seni dan Pemerintahan), Marianne Rumantir (Media Kreatif), Belinda Luis (Teknologi AI), dan Amanda Simandjuntak (Edukasi), serta dipandu oleh Arifaldi Dasril (Praktisi Komunikasi).

Melihat peluang ini, industri kreatif nasional dituntut untuk beradaptasi. AI kini hadir tidak hanya sebagai alat produksi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menciptakan nilai baru, mempercepat proses, dan memperluas jangkauan karya.

Founder and Managing Partner of Magnifique Indonesia Arifaldi Dasril, menjelaskan, perkembangan AI bukan akhir dari industri kreatif, melainkan awal dari era baru yang penuh potensi. Tantangan saat ini bukan lagi soal apakah AI akan menggantikan manusia, tapi bagaimana bisa mengoptimalkannya untuk menciptakan karya yang lebih orisinal dan relevan.

“Pada akhirnya, sejati tetap bersumber dari empati dan intuisi manusia, dua hal yang belum mampu diprogram oleh mesin,” ucapnya melalui siaran pers pada hari Senin (3/11).

Potensi pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia didukung oleh data yang kuat. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), kontribusi ekonomi kreatif nasional pada 2023 sudah menembus lebih dari 1.300 triliun rupiah dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja.

Special Advisor to the Minister of Communications and Digital Affairs Raline Shah, mengungkapkan, ia memprediksi AI akan membuka lapangan kerja baru di tiga klaster utama. Pertama, di industri konten dan kreator untuk otomatisasi editing dan dubbing.

Kedua, di game dan animasi untuk mempercepat pembuatan aset visual. Ketiga, untuk UKM digital, di mana AI membantu personalisasi iklan dan foto produk. Teknologi ini bisa mempercepat ideasi, produksi, dan analisis, tapi keberhasilannya bergantung pada cara mengelola kreativitas manusia di baliknya,” ujar dia.

Besarnya potensi di sektor konten digital ini sejalan dengan peran teknologi AI secara fundamental yang telah mengubah cara dalam mengonsumsi dan menciptakan konten. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Marianne Rumantir, CEO dan Co-Founder TS Media.

 “Di TS Media, kami melihat AI sebagai pendamping kreatif yang memperkuat storytelling, bukan menggantikannya. AI mengubah cara kami memproduksi konten, membuat prosesnya lebih efisien. Namun, tugas kami sebagai storyteller kini bergeser, kami harus menjadi kurator yang lebih baik untuk memastikan human touch dan otentisitasnya tetap ada, karena itulah yang membangun hubungan personal dengan audiens,” paparnya.

Kemampuan AI sebagai pendamping kreatif ini sejalan dengan fokus pengembangan AI di Indonesia. Data Komdigi menunjukkan sektor seperti konten digital, game, dan animasi diprediksi akan merasakan dampak AI paling signifikan. Pertumbuhan inilah yang kini diwujudkan menjadi aplikasi-aplikasi nyata oleh para praktisi teknologi, seperti yang dilakukan di industri kreatif dan teknologi immersive.

Menyoroti perkembangan teknologi AI terkini, Belinda Luis, Founder Pixie Lab and Genexyz, menyampaikan, bahwa saat ini sudah tidak lagi bicara AI sebagai konsep, tapi sebagai aplikasi nyata. Di Pixie Lab, kami memadukan teknologi AI dan data nyata dari wajah serta kulit manusia untuk mengembangkan sistem biometrik canggih di sektor kecantikan dan fashion.

“Teknologi kami tidak hanya menganalisis wajah, tetapi juga berusaha memahami wajah, karakter, dan kebutuhan unik setiap individu. Kami percaya, melalui teknologi ini, setiap orang dapat diberdayakan untuk menjadi versi terbaik dirinya, dengan kebebasan memilih produk yang paling sesuai berdasarkan analisis personal mereka,” jelasnya.

Seiring dengan pertumbuhan teknologi yang berkembang pesat, kebutuhan akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni menjadi semakin krusial. Hal ini menyoroti tantangan mengenai kesiapan talenta muda Indonesia untuk mengadopsi dan memanfaatkan AI secara produktif, serta mendorong transisi mereka dari sekadar konsumen menjadi kreator.

Menjawab tantangan kesiapan talenta, Amanda Simandjuntak, Co-Founder Markoding and Perempuan Inovasi, menegaskan, tantangan terbesar generasi muda Indonesia hari ini bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bertransformasi menjadi kreator yang bertanggung jawab.

“Di Markoding, kami percaya bahwa penguasaan kemampuan teknis saja tidak cukup. Dalam mengimplementasikan AI, setiap langkah harus disertai pemikiran kritis dan kesadaran beretika, agar teknologi yang kita ciptakan tidak merugikan, menyingkirkan, atau mengambil hak kreativitas orang lain,” katanya.

Sesi IdeaTalks Magnifique ini menegaskan bahwa menghadapi era AI bukan tentang ketakutan, tetapi tentang adaptasi, kolaborasi, dan penguatan nilai kemanusiaan. Para pembicara sepakat bahwa AI adalah akselerator dan bukan ancaman selama manusia tetap menjadi pusat dalam proses kreatif.

Dengan semangat “(Cult)ivate The Culture”, IdeaTalks 2025 menjadi wadah bagi para pelaku industri kreatif untuk bersama-sama menumbuhkan budaya kolaboratif yang memadukan teknologi, kreativitas, dan nilai kemanusiaan untuk masa depan industri kreatif Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.