- Home
-
- Luar Negeri
-
- Erdogan Ajak Mesir Bergabu...
Erdogan Ajak Mesir Bergabung dengan Pakta Pertahanan Turki-Saudi-Pakistan
Minggu, 16 Agu 2026, 00:39 WIBANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka peluang Mesir bergabung dalam perjanjian pertahanan bersama yang baru ditandatangani Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Erdogan mengatakan keanggotaan Mesir dalam pakta tersebut merupakan salah satu opsi yang memungkinkan.
âPerjanjian ini telah mengirimkan pesan penting kepada dunia,â kata Erdogan.
Perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah itu ditandatangani di Kota Mekah pada Jumat oleh Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa serangan bersenjata dari luar terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Ketentuan ini menjadi dasar bagi ketiga negara untuk mengambil langkah bersama apabila salah satu pihak menghadapi serangan eksternal.
Ketentuan tersebut kemudian dibandingkan sejumlah analis dengan Pasal 5 NATO yang mengatur prinsip pertahanan kolektif. Namun, pejabat Pakistan mengingatkan agar pakta tersebut tidak dipandang sebagai versi lain dari NATO maupun diarahkan secara khusus terhadap negara tertentu.
Erdogan mengatakan pakta itu terbuka terhadap kemungkinan perluasan keanggotaan. Mesir disebut sebagai salah satu negara yang berpotensi bergabung.
Dalam wawancara tersebut, Erdogan juga membahas sejumlah persoalan regional, termasuk ketegangan di Selat Hormuz serta konflik di Suriah, Gaza dan Lebanon.
Turki dan Selat Hormuz
Terkait Selat Hormuz, Erdogan mengatakan pembukaan kembali jalur strategis tersebut menjadi salah satu prioritas Ankara. Menurut dia, penutupan selat dalam waktu berkepanjangan tidak memberikan keuntungan bagi pihak mana pun.
Erdogan juga menyebut Qatar memiliki peran penting dalam upaya mediasi untuk menghentikan pertempuran di kawasan tersebut.
Mengenai Suriah, Erdogan menegaskan Turki tidak akan membiarkan negara-negara tetangganya menghadapi gejolak regional sendirian. Ankara, kata dia, akan terus mendukung stabilitas Suriah.
Erdogan juga mengungkapkan rencana untuk mengunjungi Suriah. Ia mengatakan masyarakat Kurdi di Suriah akan mendapatkan âbagian dari perdamaian dan stabilitasâ.
Menurut Erdogan, Turki akan terus memperkuat hubungan dengan komunitas Kurdi serta mendukung perlindungan hak-hak mereka di kawasan.
Sikap Turki terhadap Gaza dan Lebanon
Mengenai Gaza, Erdogan mengatakan Turki tidak akan meninggalkan wilayah tersebut dan akan melakukan langkah yang diperlukan untuk memberikan dukungan.
âTurki tidak bisa meninggalkan Gaza sendirian,â kata Erdogan.
Ia juga menilai Hamas telah memenuhi komitmennya dengan itikad baik, sementara Israel masih melanjutkan operasi militernya.
Untuk Lebanon, Erdogan menyebut serangan Israel yang terus berlangsung sebagai sumber kekhawatiran bagi Ankara. Ia mengatakan persoalan penghentian perang di Lebanon juga telah disampaikannya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat kunjungan Trump ke Turki.
Erdogan menilai Amerika Serikat memiliki peran penting dalam upaya mengakhiri pertempuran tersebut.
Turki Tetap Dukung Sudan dan Libya
Erdogan mengatakan Turki akan terus memberikan dukungan kepada Sudan. Ia juga menyebut hubungan Ankara dengan Kepala Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, berada dalam kondisi baik.
Sementara mengenai Libya, Erdogan mengatakan hubungan Turki dengan negara tersebut tetap stabil dan Ankara tidak akan meninggalkan Libya.
Erdogan: Keanggotaan Uni Eropa Bukan Lagi Prioritas
Dalam wawancara yang sama, Erdogan juga menyinggung hubungan Turki dengan Uni Eropa.
Ia menilai Uni Eropa tampaknya tidak bersedia menerima Turki sebagai anggota. Karena itu, menurut Erdogan, keanggotaan Uni Eropa bukan lagi menjadi prioritas bagi Ankara.
Erdogan bahkan memperingatkan Eropa akan menjadi âpihak yang kalahâ akibat sikap tersebut.
Menunggu Kepastian F-35 dari Trump
Erdogan turut membahas rencana Turki kembali memperoleh jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat.
Ia mengatakan telah menerima janji dari Trump mengenai F-35 dan kini menunggu realisasi dari janji tersebut.
Turki dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 setelah membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia. Washington menilai keberadaan S-400 dapat mengancam keamanan teknologi jet tempur siluman tersebut.
Dalam KTT NATO di Ankara bulan lalu, Trump mengatakan pemerintahannya akan mencabut sanksi CAATSA terhadap Turki yang diberlakukan pada Desember 2020 terkait pembelian S-400. Trump juga menyatakan bahwa kemungkinan Turki kembali ke program F-35 akan dipertimbangkan.
Namun, proses tersebut masih menghadapi hambatan. Penjualan F-35 kepada Turki mendapat penolakan dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat, sementara undang-undang yang berlaku sejak 2020 melarang Pentagon mentransfer F-35 kepada Turki selama Ankara masih mempertahankan sistem S-400.
- Pakta Pertahanan
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.