DPRD Minta Tak Dibesar-besarkan Perihal Admin Medsos Wali Kota Surabaya Salah Ucap Saat Live

Minggu, 02 Nov 2025, 17:50 WIB

JAKARTA - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni meminta masyarakat tidak membesar-besarkan insiden viral yang menyeret admin media sosial Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Menurutnya, kesalahan tersebut tidak menggambarkan keseluruhan kinerja lapangan Eri dalam melayani masyarakat.

Sebagai informasi, kontroversi bermula dari siaran langsung Instagram akun resmi Eri Cahyadi yang saat itu sedang dijeda. Namun tanpa disadari, mikrofon masih menyala dan menangkap percakapan admin yang terlibat diskusi internal mengenai konten video kegiatan sang Wali Kota.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA

Dalam cuplikan video yang kemudian beredar luas di media sosial tersebut, terdengar admin perempuan menyampaikan bahwa video kegiatan Eri pada hari itu lebih baik disimpan terlebih dahulu. Ia menyebut rekaman itu bisa diunggah lain waktu jika terjadi hujan di Surabaya dan menampilkan seolah-olah Eri turun langsung saat kejadian.

"Saya kira itu murni kelalaian individu. Tidak elok kalau kemudian dipukul rata seolah kegiatan lapangan Pak Wali hanya pencitraan. Warga Surabaya tahu," ujar Arif Fathoni di Surabaya, Minggu (2/11/2025).

Pernyataan tersebut muncul karena sebagian warganet menilai pernyataan admin itu mengarah pada praktik pencitraan. Mereka lantas membanjiri kolom komentar akun Eri dengan kritik dan sindiran terkait aktivitas lapangan yang ditampilkan di media sosial.

Arif menilai kesimpulan tersebut berlebihan dan tidak adil bagi Wali Kota Eri. Pasalnya, saat kejadian berlangsung, Eri tengah fokus bekerja dan tidak mengetahui percakapan admin yang sedang mengontrol siaran langsung tersebut.

Menurut Arif, kesalahan tersebut murni terjadi karena kelalaian teknis dan tidak menggambarkan substansi dari aktivitas pelayanan publik yang dilakukan Eri selama ini. Ia meminta publik menilai kinerja secara objektif dan tidak terjebak pada persepsi sesaat di media sosial.

Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa admin yang bersangkutan telah bersikap kooperatif dan bertanggung jawab. Ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik serta memutuskan mundur dari tim media sosial Wali Kota.

"Staf itu sudah minta maaf dan mengundurkan diri. Itu langkah terhormat yang jarang dilakukan di birokrasi," ucapnya.

Arif juga menyebut Eri bukan tipe pemimpin yang mengejar popularitas di media sosial. Ia menjelaskan bahwa banyak kegiatan Eri turun langsung ke lapangan dilakukan tanpa liputan maupun sorotan kamera.

“Mas Wali turun malam-malam meninjau jalan rusak di kawasan Jagir sampai Panjang Jiwo. Tidak ada kamera, tidak ada live, tapi sebulan kemudian jalan itu sudah diaspal mulus. Warga yang merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, warga yang pernah langsung menerima manfaat dari kebijakan Eri tentu mengetahui gaya kepemimpinannya yang mengedepankan aksi nyata. Penguatan infrastruktur lingkungan, layanan publik, hingga penanganan aduan warga terus dilakukan secara cepat meskipun tidak selalu dipublikasikan.

Dengan berbagai alasan tersebut, Arif meminta agar kasus ini menjadi pembelajaran dan tidak menjadi alat untuk menjatuhkan reputasi pemimpin daerah. Ia berharap publik bisa lebih bijak dalam merespons konten yang viral di dunia maya, terutama ketika menyangkut nama pejabat yang sedang bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa setiap staf maupun pekerja muda yang terlibat dalam pengelolaan media sosial membutuhkan ruang untuk belajar dan berkembang. Kesalahan yang sudah diakui dan dipertanggungjawabkan seharusnya tidak terus menjadi beban atau bahan perundungan.

Menurutnya, pihak Pemerintah Kota Surabaya akan mengevaluasi alur pengelolaan media sosial untuk meningkatkan profesionalitas dan menghindari kejadian serupa di masa mendatang. Namun demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama pemkot tetap pada penyelesaian masalah di masyarakat, bukan pada drama dunia maya yang tidak produktif.

Dengan meredanya polemik ini, diharapkan hubungan antara pemerintah dan masyarakat tetap terjalin dengan baik melalui komunikasi yang lebih sehat. DPRD juga berkomitmen mengawasi pelayanan publik tetap berjalan optimal tanpa terpengaruh oleh peristiwa viral sesaat.

Ke depan, Arif meyakini seluruh jajaran Pemkot Surabaya akan bekerja lebih hati-hati dalam menjaga kredibilitas komunikasi publik. Ia menegaskan bahwa pelayanan untuk warga tetap menjadi prioritas di atas segala kepentingan lainnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.