Ekonom Prediksi IHK Oktober Alami Deflasi Ringan, Konsumsi Melemah?

Jumat, 31 Okt 2025, 21:50 WIB

JAKARTA – Harga turun atau deflasi bisa terdengar menarik. Namun, deflasi dapat mengarah pada perlambatan ekonomi yang serius. Dampak negatifnya termasuk penurunan investasi dan daya beli, pengangguran yang meningkat, dan bahkan krisis ekonomi.

Pelaku usaha cenderung menunda atau membatalkan investasi karena mereka mengantisipasi penurunan harga yang terus-menerus, sehingga margin keuntungan menjadi lebih kecil atau bahkan merugi.

Ket. Foto: Diskon harga tiket pesawat bakal mempengaruhi catatan deflasi pada Oktober 2025. — Sumber: ANTARA FOTO/ Lucky R

Masyarakat mungkin menahan pengeluaran dengan harapan harga akan turun lebih jauh, yang kemudian menyebabkan permintaan menurun.Akibat rendahnya permintaan, perusahaan akan mengurangi produksi dan dapat terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Jika deflasi berlangsung lama, hal ini dapat memicu resesi ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan pengangguran yang tinggi.

Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat deflasi ringan pada Oktober 2025, didorong oleh penurunan harga pangan dan tarif tiket pesawat yang didiskon.

IHK pada Oktober 2025 diproyeksikan mencatat deflasi ringan sebesar 0,05 persen month to month (mtm), berbalik dari inflasi 0,21 persen (mtm) pada September 2025.

“Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga pangan dan adanya diskon tarif penerbangan,” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/10).

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data IHK Oktober 2025 pada Senin (3/1).

Faisal memperkirakan komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi tipis, didukung oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan utama.

Komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) juga diperkirakan mengalami deflasi bulanan, seiring dengan kebijakan pemerintah memberikan diskon tarif pesawat.

Inflasi inti diperkirakan naik tipis dari 0,18 persen (mtm) menjadi 0,19 persen (mtm). Menurut proyeksi Permata Bank, hal ini dipengaruhi oleh kenaikan harga emas dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Secara kumulatif, inflasi IHK Januari-Oktober 2025 diperkirakan mencapai 1,77 persen (year to date/ytd) atau masih berada dalam kisaran target inflasi Bank Indonesia (BI).

Sementara itu secara tahunan, inflasi umum diperkirakan mencapai 2,52 persen (yoy) pada Oktober 2025, melambat dari 2,65 persen (yoy) pada September 2025.

Inflasi inti juga diproyeksikan sedikit melambat menjadi 2,15 persen (yoy), dibandingkan 2,19 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Untuk keseluruhan tahun, Permata Bank mempertahankan proyeksi inflasi IHK akan berada dalam kisaran 2,0-2,5 persen hingga akhir 2025.

“Ke depan, kami memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam target BI sebesar 1,5-3,5 persen hingga akhir 2025, memberikan ruang bagi BI untuk melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif dan pro-pertumbuhan. Kami masih melihat potensi satu kali penurunan suku bunga BI sebesar 25 basis poin (bps) sebelum akhir tahun,” kata Faisal.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.