Bukan Lagi Profesi Tertinggal! 27 Ribu Petani Milenial Nikmati Gaji Belasan Juta
📅 Rabu, 22 Okt 2025, 17:33 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
JAKARTA – Mendorong lahirnya petani milenial bukan sekadar upaya regenerasi sektor pertanian, tapi juga strategi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan dan daya saing ekonomi nasional.
Selama ini, mayoritas petani Indonesia didominasi usia lanjut, sementara minat generasi muda terhadap dunia tani masih tergolong rendah. Padahal, sektor ini punya potensi besar kalau dikelola dengan pendekatan modern dan berbasis teknologi yang melibatkan petani milenial.
Petani milenial membawa cara pandang baru: mereka lebih terbuka terhadap inovasi, berani mengambil risiko, dan piawai memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi produksi—mulai dari penggunaan sensor tanah, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran lewat platform online.
Dengan dukungan akses pembiayaan, pelatihan, dan pendampingan yang tepat, para petani milenial tersebut bisa menjadi motor penggerak transformasi pertanian menuju era smart farming.
Lebih dari itu, kehadiran petani milenial bisa mempersempit jarak antara sektor pertanian dan dunia industri kreatif. Produk pertanian tak lagi sekadar hasil panen, tapi bisa dikemas menjadi komoditas bernilai tinggi melalui inovasi dan branding.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mendorong petani milenial bukan hanya tentang siapa yang akan menanam di masa depan, tapi tentang bagaimana pertanian Indonesia bisa terus relevan, produktif, dan menarik bagi generasi muda di tengah tantangan global yang makin kompleks.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut sudah ada 27 ribu anak muda yang saat ini menjadi petani berpendapatan mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Menurut Amran, minat anak muda generasi milenial dan Gen Z terhadap sektor pertanian mulai meningkat seiring dengan masuknya teknologi modern ke dalam sistem pertanian. Pemerintah memberikan dukungan berupa fasilitas dan alat pertanian secara hibah, sehingga para petani muda dapat langsung berproduksi dengan efisien.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Mereka dari Merauke, dari Kalimantan dan Aceh itu pendapatannya rata-rata Rp15 juta sampai Rp20 juta. Kami berikan fasilitas, kami berikan alat pertanian hibah untuk mereka. Dan nanti ini Insya-Allah berkelanjutan,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (22/10).
Amran mengaku optimistis tren itu akan terus tumbuh, terutama karena pemerintah tengah menggencarkan program cetak sawah baru seluas tiga juta hektare.
Lahan tersebut akan dibangun berbasis teknologi tinggi dan dikembangkan dalam bentuk kluster, yang disebut setara dengan sistem pertanian negara maju seperti Amerika Serikat dan China. Model tersebut dinilai lebih efisien dan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Sementara itu, berdasarkan Sensus Pertanian 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas petani di Indonesia masih berasal dari kelompok usia tua.
Sekitar 70 persen petani berusia di atas 40 tahun, dengan dominasi terbesar berasal dari Generasi X (lahir 1965–1980) yang mencakup 42,39 persen, disusul oleh Baby Boomers (1946–1964) sebesar 27,61 persen.
Sedangkan partisipasi generasi muda masih tergolong rendah. Milenial (1981–1996) hanya mencakup 25,61 persen dari total petani, dan generasi Z (1997–2012) bahkan lebih kecil lagi, yakni hanya 2,14 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!