Rasionalisasi Besar-Besaran! CEO Danantara Beberkan Rencana Perampingan BUMN Jadi 230

Senin, 20 Okt 2025, 22:27 WIB

JAKARTA – Rasionalisasi jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi langkah strategis yang tak bisa dihindari jika pemerintah ingin membangun ekosistem perusahaan berpelat merah yang lebih efisien dan kompetitif.

Selama ini, banyak BUMN yang memiliki bidang usaha tumpang tindih, kinerja stagnan, atau bahkan terus bergantung pada dukungan negara tanpa kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Ket. Foto: Wisma Danantara Indonesia. — Sumber: Antara.

Melalui proses rasionalisasi—baik lewat konsolidasi, merger, maupun likuidasi—pemerintah berupaya memperkuat fokus bisnis dan mengefisienkan struktur korporasi.

Tujuannya bukan semata memangkas jumlah, tetapi menciptakan BUMN yang lebih sehat, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Langkah ini juga mencerminkan pergeseran paradigma: dari state operator menuju state enabler. Artinya, negara tidak lagi harus hadir di semua sektor, tetapi cukup di sektor strategis yang benar-benar berdampak bagi publik.

Dengan begitu, efisiensi dan tata kelola BUMN bisa meningkat, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi sektor swasta untuk tumbuh.

Rasionalisasi ini juga menjadi ujian transparansi dan keberanian politik. Sebab, menggabungkan atau menutup BUMN berarti menyentuh banyak kepentingan.

Namun, bila dijalankan dengan perencanaan matang dan tata kelola profesional, langkah ini justru dapat memperkuat peran BUMN sebagai penggerak ekonomi nasional yang efektif, bukan sekadar simbol kebanggaan negara.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani berencana untuk melakukan rasionalisasi jumlah perusahaan BUMN meliputi induk sampai anak-cucu perusahaan BUMN dari 1.044 BUMN menjadi 230-340 BUMN ke depannya.

Menurut Rosan, awalnya terdapat 800 perusahaan BUMN, namun ternyata dalam kenyataannya berkembang terus di 12 sektor mencapai hampir 1.044 perusahaan BUMN saat ini.

"Kita ingin membuat ini efektif, efisien dari seribu perusahaan BUMN. Kita sudah reviu (review), mungkin arahnya hanya sampai 230-340 BUMN nantinya, lima tahun ke depan," ujarnya di Jakarta, Senin (20/10).

Rencana rasionalisasi jumlah perusahaan BUMN tersebut merupakan target dari Danantara sebagai Badan Pengelola Investasi.

"Itu memang target dari kami, karena kami tidak berbicara soal angka, kami berbicara mengenai kualitas. Dan saya juga bilang, kalau di kita bukan bicara hanya untung dan rugi (profit and loss), tapi kita lebih bicara sumber daya manusia juga," kata Rosan.

Sebagai informasi, Presiden RI Prabowo Subianto optimistis upaya pengurangan jumlah Badan Usaha Milik negara (BUMN) dari 1.000 menjadi sekitar 200 entitas usaha dapat meningkatkan rasio profitabilitas antara laba dibandingkan total aset (Return of Asset/RoA).

Dia mengatakan, sudah memberikan arahan kepada CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani untuk melaksanakan rasionalisasi tersebut.

Selain itu, ia juga meminta manajemen Danantara Indonesia untuk mengoperasikan BUMN dengan standar bisnis internasional, termasuk merekrut talenta terbaik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Presiden menyatakan, langkah tersebut dilakukan agar pengelolaan BUMN lebih efisien, transparan, dan berdaya saing global.

Melalui upaya tersebut, ia optimistis rasio Return of Asset BUMN yang tadinya hanya sekitar 1-2 persen dapat meningkat.

  • Danantara
  • rasionalisasi bumn

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.