Masjid Huangcheng: Simbol Toleransi Beragama yang Telah Berdiri Selama Ratusan Tahun di Chengdu
📅 Senin, 20 Okt 2025, 07:00 WIB | Oleh: Yebdi TrismarMeskipun sempat rusak parah akibat perang pada 1917 dan dibangun kembali setelahnya, luas masjid telah jauh berkurang dari area aslinya yang lebih dari 6.600 meter persegi menjadi sekitar 5.000 meter persegi.
Namun, ia tetap menjadi masjid terbesar di Provinsi Sichuan dan salah satu masjid kuno yang termasyhur di China.
Masjid Huangcheng pertama kali dibangun pada abad ke-16 dan menjalani perbaikan besar yang dimulai pada tahun 1858.
Pada tahun 1917, masjid ini rusak parah selama masa perang. Meskipun dibangun kembali, ukurannya sangat berkurang karena kendala keuangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masjid kini mencakup area sekitar 5.000 meter persegi dan tetap menjadi situs religius dan budaya yang penting di Chengdu.
Tata letak masjid mengikuti desain taman kuil tradisional Tiongkok. Meskipun bangunannya bergaya Dinasti Qing, dekorasinya sangat berpegang pada prinsip-prinsip Islam, hanya menggunakan motif tumbuhan dan kaligrafi ayat Al-Qur'an.
Desain masjid yang sekarang, selesai pada tahun 1997, memadukan gaya arsitektur Arab dengan elemen-elemen dari Dinasti Ming dan Qing yang mirip dengan kuil Khonghucu.
Masjid ini memiliki tembok besar setinggi 9 meter dan lebar 4 meter yang dibangun pada pertengahan era Dinasti Qing.
Gerbang utamanya menampilkan plakat horizontal bertuliskan "Masjid Huangcheng" diapit oleh pintu hias dan pagar.
Ruang shalat memiliki luas sekitar 380 meter persegi dan dapat menampung 600-700 orang.
"Setiap Shalat Jumat kurang lebih 1.500 orang menghadiri Sholat Jumat. Bilal mengumandangkan azan dengan pengeras suara agar terdengar ke luar masjid. Itu dilakukan setiap mau Shalat Jumat maupun Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di luar Shalat Jumat dan Hari Raya kami mengumandangkan azan dengan tidak menggunakan pengeras suara," kata Chen Jin.
Di dalam masjid, lanjut dia, terdapat dua prasasti peringatan di ruang sejarah di masjid ini.
Keduanya dipersembahkan oleh pemerintah pusat kepada umat Muslim di Provinsi Sichuan pada tahun 1950.
Satu prasasti ditulis oleh Guo Moruo, salah satu penulis, penyair, dan arkeolog paling terkenal di Tiongkok. Isi prasastinya adalah "Kita Bersaudara", lanjut Chen Jin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!