Sinyal Pelonggaran Powel Angin Segar buat RI
Jumat, 17 Okt 2025, 14:20 WIBJAKARTA-Sinyal The Fed (Bank Sentral Amerik Serikat) yang mulai melonggarkan pengetatan moneter setelah periode pengetatan yang cukup panjang merupakan angin segar bagi ekonomi Indonesia dan negara negara berkembang lainnya.
Pengamat Kebijakan Publik Fitra Badiul Hadi, mengatakan dirinya melihat ada pola perubahan kebijakan moneter AS termasuk terkait quantitative tiggtening (QT). "The Fed tampak berhati-hati menjaga stabilitas sistem keuangan setelah periode pengetatan likuiditas yang cukup panjang,"terang dia, Jumat (17/10) merespon dinamika terbaru ekonomi AS.
Cadangan berlimpah yang disebut Powell menunjukkan bahwa perbankan mulai memiliki ruang likuiditas cukup, sehingga tekanan dari sisi neraca The Fed terhadap pasar uang dapat dikurangi.
Sementara itu, isyarat pemangkasan suku bunga yang lebih banyak menegaskan The Fed tengah bersiap menghadapi pelemahan ekonomi domestik. Inflasi yang mulai terkendali dan tanda tanda perlambatan di sektor tenaga kerja menjadi alasan utama untuk melonggarkan kebijakan moneter. "Diharapkan kebijakan ini mampu menjaga momentum pertumbuhan tanpa memicu ketidakstabilan harga yang baru,"ucap Badiul
Bagi pasar global, sinyal dovish (melunak) Powell segera tercermin pada penguatan harga obligasi dan tekanan terhadap dolar AS. "Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kebijakan ini bisa menjadi angin segar melalui aliran modal masuk dan penurunan imbal hasil surat utang. Namun, peluang ini tetap perlu diimbangi dengab kebijakan fiskal yang hati hati agar tidak sekadar menjadi euforia jangka pendek,"tegas Badiul.Â
 Peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan pernyataan Powell ini menunjukkan bahwa The Fed mulai melihat ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter setelah periode pengetatan yang cukup panjang.Â
Ketika quantitative tightening mendekati akhir, artinya tekanan likuiditas di sistem keuangan mulai mereda dan kondisi perbankan dinilai cukup stabil. Isyarat pemangkasan suku bunga yang lebih lanjut juga mempertegas bahwa fokus kebijakan kini mulai bergeser dari pengendalian inflasi menuju stabilisasi pertumbuhan ekonomi.
"Bagi negara emerging market seperti Indonesia, sinyal pelonggaran ini berpotensi membawa dampak positif. Arus modal asing cenderung mengalir kembali ke negara berkembang ketika suku bunga di AS turun, karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi,"papar Rendi
Hal ini terangnya dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan menurunkan tekanan terhadap yield surat utang pemerintah. Namun di sisi lain, Indonesia juga perlu tetap waspada, karena jika pelonggaran dilakukan terlalu cepat dan memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global, volatilitas nilai tukar dan arus modal bisa meningkat kembali.
 "Jadi, meskipun sinyal The Fed kali ini memberi angin segar bagi pasar keuangan domestik, respons kebijakan di dalam negeri tetap harus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan daya saing ekonomi,"ucap dia
Diketahui, Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa (14/10) menyiratkan bahwa bank sentral mendekati titik di mana mereka akan menghentikan pengurangan kepemilikan obligasi (quantitative tightening), serta memberikan sinyal bahwa adanya pemangkasan suku bunga yang lebih banyak.Â
Berbicara dalam konferensi National Association for Business Economics di Philadelphia, Powell memaparkan posisi The Fed terkait âquantitative tighteningâ, yaitu upaya mengurangi lebih dari 6 triliun dollar AS surat berharga yang saat ini berada di dalam neraca bank sentral.
Meskipun Powell tidak memberikan tanggal pasti kapan program itu akan berakhir, ia mengatakan ada tanda-tanda bahwa The Fed mulai mencapai target cadangan âberlimpahâ (ample reserves) bagi perbankan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Aksi Buruh di Depan DPR/MPR Serukan Lima Tuntutan
-
Jangan Hanya Bisa Perketat Pasar, Negara Maju Harus Bantu Negara Berkembang untuk Percepat Transisi!
-
Jaga Stamina di Bulan Puasa, Bear Brand Ajak Masyarakat Terapkan 5 Kebiasaan Sehat Ini
-
Libur Sekolah, Puluhan SPPG Kudus Terus Distribusikan Menu MBG
-
Pengamat Nilai Kejadian PSU Bengkulu Selatan Jangan Diabaikan
-
Piastri Rebut Pole di GP Spanyol, McLaren Kunci Barisan Depan Pertama Kali Sejak 1998
-
Dana Rp 200 Triliun Harus Gerakan Sektor Riil, Jangan Cuma Nganggur di Bank!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.