Trump akan Hadiri Penandatanganan Kesepakatan Damai Thailand-Kamboja

Rabu, 15 Okt 2025, 02:45 WIB

KUALA LUMPUR - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan menghadiri penandatanganan seremonial perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja pada pertemuan puncak regional Asia tenggara mendatang. Informasi itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Malaysia pada Selasa (14/10).

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja meletus pada bulan Juli lalu dan menjadi bentrokan militer paling mematikan dalam beberapa dekade dengan menewaskan lebih dari 40 orang dan memaksa sekitar 300.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Ket. Foto: Umumkan Kedatangan Trump - Menlu Malaysia, Mohamad Hasan, saat berbicara dalam sebuah pertemuan Asean di Kuala Lumpur pada 9 Juli lalu. Pada Selasa (14/10), Menlu Mohamad mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan menghadiri penandatanganan perjanjian damai Thailand-Kamboja saat pertemuan puncak Asean di Kuala Lumpur pada akhir Oktober ini. — Sumber: AFP/MOHD RASFAN

Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, yang ditengahi sebagian oleh Trump, setelah lima hari pertempuran, dan sejak itu berulang kedua belah pihak kali saling menuduh telah melanggar gencatan senjata.

“Trump menantikan untuk menyaksikan kesepakatan damai Thailand-Kamboja," kata Menlu Mohamad Hasan kepada wartawan pada konferensi pers di Kuala Lumpur.

Menlu Mohamad mengatakan pemimpin AS akan mengunjungi Malaysia pada 26 Oktober untuk menghadiri pertemuan puncak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di ibu kota Malaysia yang digelar mulai 26 hingga 28 Oktober.

Menlu Mohamad mengatakan Malaysia dan AS akan bertindak sebagai fasilitator untuk melihat kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas antara Thailand dan Kamboja, yang akan mengharuskan kedua belah pihak untuk menyingkirkan semua ranjau darat dan menarik peralatan militer mereka dari perbatasan mereka.

"Kami berharap kedua belah pihak dapat memenuhi persyaratan ini dan pada KTT Asean nanti dapat ditandatangani deklarasinya. Kita bisa menyebutnya Deklarasi Kuala Lumpur atau Kesepakatan Kuala Lumpur. Kita ingin memastikan kedua negara tetangga ini bisa bersatu untuk berdamai dan juga melaksanakan gencatan senjata," tutur Menlu Mohamad.

Juru bicara pemerintah Thailand, Siripong Angkasakulkiat, mengatakan kepada wartawan bahwa Bangkok mengetahui AS memprioritaskan penyelesaian perselisihan tersebut.

"Namun yang harus dilakukan Kamboja terlebih dahulu, sebelum kami menerima tawaran AS, adalah empat poin yang telah kami ajukan," ujar dia.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, Pada Kamis (9/10) lalu mengatakan bahwa ia telah menerima surat dari Trump, dengan pemimpin AS tersebut mengatakan ia ingin melihat kedua negara tetangga itu menyelesaikan ketegangan.

Anutin juga mengatakan Thailand siap bernegosiasi jika Kamboja menarik senjata berat dari daerah perbatasan, menyingkirkan ranjau darat, menindak tegas sarang penipuan internet, dan merelokasi warganya dari wilayah perbatasan yang dianggap Thailand sebagai miliknya.

Kamboja mengatakan warga negaranya telah tinggal di desa-desa perbatasan yang disengketakan selama beberapa dekade.

Pertemuan Menlu

Pernyataan Anutin muncul sehari setelah PM Thailand itu tampaknya menepis peran lanjutan Trump yang tengah mengejar untuk mendapatkan anugerah Nobel Perdamaian, dalam negosiasi lebih lanjut antara kedua negara yang bertujuan menyelesaikan sengketa perbatasan mereka.

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, mengatakan ia menominasikan presiden AS untuk mendapatkan anugerah Nobel Perdamaian, memberinya penghargaan atas diplomasi inovatif yang mengakhiri bentrokan.

Pada Minggu (12/10), Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan menteri luar negeri kedua negara bertemu di Kuala Lumpur selama akhir pekan untuk membahas gencatan senjata, dengan kehadiran pejabat AS dan Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang jadi ketua Asean saat ini, mengatakan Trump akan menghadiri pertemuan tersebut tetapi belum ada konfirmasi resmi dari Washington DC. Sedangkan para pemimpin dari seluruh 10 anggota kelompok tersebut dan mitra dagang, seperti Tiongkok, Jepang, dan Russia, dipastikan akan menghadiri pertemuan puncak tersebut. CNA/I-1

  • ASEAN

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.