Kadin: Tarif 19 Persen AS Buat RI Kompetitif

Rabu, 15 Okt 2025, 01:00 WIB

Pemerintah dapat manfaatkan mineral kritis untuk perkuat posisi Indonesia dalam negosiasi perdagangan global.

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kebijakan tarif 19 persen yang diterapkan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah produk impor justru membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

Ket. Foto: Anindya Bakrie Ketua Umum Kadin Indonesia - Saya ga bisa bilang ini peluang dalam kesempitan, tapi Indonesia punya mineral kritis banyak. — Sumber: antara

"19 persen itu sudah kompetitif," kata Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie ditemui usai menghadiri Forbes Global CEO Conference di Jakarta, Selasa (14/10).

Seperti dikutip dari Antara, Anindya mengatakan guna memaksimalkan potensi penguatan daya saing dari tarif yang diterapkan oleh AS, pemerintah perlu memastikan kemudahan perizinan dalam melakukan bisnis di Indonesia, serta memperkuat infrastruktur agar menciptakan rasa nyaman untuk para investor.

Lebih lanjut Anindya menjelaskan, supaya ekonomi nasional tumbuh optimal, Indonesia seharusnya tak hanya fokus dalam penguatan belanja pemerintah dan konsumsi domestik saja tetapi turut memacu investasi serta perdagangan.

Selain itu, menurut dia, tarif resiprokal 100 persen yang diterapkan oleh AS terhadap produk Tiongkok, bisa dimanfaatkan oleh Indonesia dengan memperkuat hilirisasi mineral kritis agar bisa memberikan nilai tambah signifikan terhadap perekonomian.

"Saya ga bisa bilang ini peluang dalam kesempitan, tapi Indonesia punya mineral kritis banyak," katanya.

Anindya menekankan penggunaan sumber daya mineral kritis yang dimiliki Indonesia sebagai cara untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan negara lain.

Adapun sumber mineral kritis yang ada di Indonesia yakni nikel, tembaga, kobalt, bauksit, timah dan potensi litium. Untuk nikel, Indonesia memiliki cadangan terbesar di dunia yakni mencapai 48 persen dari total cadangan global, serta cadangan tembaga dengan total mencapai 28 juta ton yang menempatkannya di peringkat ketujuh dunia.

Selanjutnya, cadangan kobalt Indonesia diperkirakan mencapai 600 ribu ton, cadangan bauksit diperkirakan mencapai 1,2 miliar ton, serta Indonesia adalah salah satu produsen timah terbesar di dunia, dengan cadangan mencapai 2,8 juta ton atau sekitar 16 persen dari cadangan global.

Pemerintah Indonesia sudah melakukan negosiasi dengan Pemerintah AS, dan berhasil menurunkan tarif yang semula 32 menjadi 19 persen. Tarif yang diperoleh Indonesia lebih rendah dibanding negara lain, misalkan Vietnam memperoleh tarif balasan 20 persen, Kanada 35 persen, India 50 persen, dan Brasil 50 persen.

Neraca Perdagangan AS

Secara terpisah, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) menyebutkan alasan Presiden Trump memberikan tarif impor tinggi kepada negara mitra dagangnya yaitu lantaran ingin meningkatkan kembali sektor manufakturnya.

Agus menjelaskan sektor manufaktur AS hanya menyumbang kurang dari 12 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negaranya. Menurut dia, Trump saat ini ingin mengembalikan kekuatan sektor manufaktur.

"Tujuan utama dari Presiden Trump adalah mengembalikan sektor manufaktur Amerika untuk pertumbuhan yang bisa semakin tinggi dan kontribusi terhadap GDP Amerika-nya kembali semakin besar," ujar Agus di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kebijakan Trump terkait dengan tarif impor baru juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan Neraca Perdagangan AS dengan para mitra dagang.

"Di permukaannya memang untuk balance, trade balance antara Amerika dengan negara-negara partner balance, trade partnernya," katanya.

Terkait dengan tarif impor 100 persen yang ditetapkan AS untuk Tiongkok, Agus merespons secara hati-hati. Menurut dia, kemungkinan Trump ingin mendapatkan investasi lebih dari kebijakan tersebut.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.