Inflasi Memanas di September 2025, Cabai dan Daging Ayam Jadi Biang Kerok Kenaikan Harga
Rabu, 01 Okt 2025, 16:10 WIBJAKARTA â Inflasi September 2025 terasa makin panas, dan penyebab utamanya datang dari dapur: harga cabai merah, cabai hijau, serta daging ayam ras melonjak. Kenaikan ini bikin inflasi pangan jadi motor penggerak utama laju harga.
Artinya, tekanan inflasi kali ini bukan hanya soal angka statistik, tapi juga terasa langsung di kantong masyarakat. Lonjakan harga komoditas pokok ini menandakan betapa rentannya inflasi nasional terhadap guncangan pangan sehingga menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk memperkuat pasokan serta distribusi agar gejolak harga tak berlarut-larut.
Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (1/10), melaporkan tangkat inflasi secara bulanan (mtm) pada September lalu sebesar 0,21 persen atau berbalik dari catatan deflasi 0,08 persen pada Agustus 2025. Secara tahunan (yoy), inflasi tercatat sebesar 2,65 persen atau di atas catatan pada bulan sebelumnya di level 2,31 persen.
Dengan begitu, inflasi secara tahun kalender berjalan (ytd) hingga September 2025 mencapai 1,82 persen. Angka tersebut masih berada di kisaran target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni di rentang 1,5-3,5 persen.
BPS mencatat kenaikan harga cabai merah, cabai hijau dan daging ayam ras mendorong inflasi bulanan September 2025 sehingga menjadikan komoditas bahan pangan tersebut sebagai penyumbang utama kenaikan harga.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan inflasi 0,38 persen dan andil sebesar 0,11 persen.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah dalam jumpa pers "Rilis Berita Resmi Statistik" di Jakarta, Rabu (1/10), mengatakan bahwa sejak tahun 2023, harga cabai merah dan daging ayam ras selalu turun setiap September, hingga akhirnya berbalik naik pada September 2025.
Komoditas cabai hijau juga sempat deflasi pada September tahun lalu, namun kini berbalik mencatat inflasi pada September tahun ini.
Adapun inflasi bulanan pada September 2025 yang sebesar 0,21 persen terutama didorong oleh inflasi komponen inti (core inflation) sebesar 0,18 persen dengan andil inflasi sebesar 0,11 persen.
Komponen harga diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi sebesar 0,06 persen dan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Sementara komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,52 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 5,01 persen dan andil inflasi sebesar 1,43 persen. Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah komoditas cabai merah.
Seluruh komponen tercatat mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,19 persen. Sementara inflasi pada komponen harga diatur pemerintah sebesar 1,10 persen serta komponen harga bergejolak sebesar 6,44 persen.
Berdasarkan wilayahnya, BPS mencatat bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami inflasi. Sebanyak 37 provinsi mengalami inflasi dan hanya satu provinsi yang mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di provinsi Sumatera Utara, yaitu 5,32 persen yoy. Sedangkan deflasi hanya terjadi di Maluku Utara, yaitu 0,17 persen yoy.
- Cabai Merah Keriting
- Daging Ayam
- BPS
- inflasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pondok Gontor Tetapkan Idul Fitri Jatuh Besok Jumat 20 Maret
-
BPS DKI Sebut Inflasi Bulanan Pada Lebaran Cenderung Tinggi
-
Allianz Life dan HSBC Hadirkan Sub-Dana Baru dengan Dividen Bulanan
-
Menko Perekonomian Umumkan Kewajiban THR untuk ASN dan Swasta
-
Lindungi Karya Asli, Sony Kembangkan Teknologi untuk Melacak Asal Usul Musik Buatan AI
-
War Trakjil GoPay, Cara Baru Berbagi di Bulan Ramadan dengan Total Hadiah Miliaran
-
Kegelisahan Guru di NTB Terjawab, Pemprov Pastikan Pembayaran TPG dan THR
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.