Fitra: Kunci keberhasilan pendalaman pasar keuangan tidak hanya pada inovasi instrumen, tetapi juga pada literasi dan insentif dan transparansi
Selasa, 30 Sep 2025, 20:34 WIBÂ JAKARTA-Upaya Bank Indonesia (BI) untuk memperdalam pasar keuangan harus semakin berkembang dan sesuai dengan perkembangan ekonomi di lapangan. Sebab ke depan, kunci keberhasilan pendalaman pasar keuangan tidak hanya pada inovasi instrumen, tetapi juga pada literasi, insentif, dan integrasi dengan kebutuhan riil sektor usaha.Â
Demikian ditegaskan Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi menanggapi langkah BI yang memperdalam pasar keuangan melalui penguatan instrumen seperti repo, OIS, DNDF, dan FX Swap.Â
"Dengan begitu, pasar keuangan kita bukan hanya dalam tetapi juga inklusif, efisien, dan mampu menopang stabilitas makroekonomi nasional,"ungkap Badiul di Jakarta, Senin (29/9).
Pendalaman pasar keuangan juga menurutnya perlu diseimbangkan dengan agenda literasi, insentif, dan tata kelola yang transparan. "Jika tidak, instrumen baru hanya menambah kompleksitas tanpa meningkatkan inklusivitas. Pasar yang dalam harus berarti pasar yang juga bisa diakses dan relevan bagi perekonomian nasional,"tegas Badiul
Dia menilai langkah Bank Indonesia mendorong pendalaman pasar, langkah yang baik, terutama melalui penguatan instrumen seperti repo, OIS, DNDF, dan FX Swap. Kehadiran instrumen berbasis acuan domestik, seperti INDONIA dan JISDOR, merupakan upaya strategis agar pembentukan harga lebih kredibel serta mengurangi ketergantungan pada referensi global.
Peluncuran matchmaking OIS juga terangnya memberi sinyal positif untuk memperkuat likuiditas dan transparansi pasar uang. Namun, tantangan terletak padapartisipasi pelaku, baik perbankan maupun korporasi, agar instrumen ini tidak sekadar menjadi âetalaseâ tetapi benar benar aktif digunakan.
Diketahui, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral terus mendorong pendalaman pasar keuangan melalui peningkatan volume transaksi dan pembentukan harga yang lebih kredibel.Â
Destry melalui keterangan tetulis yang diterima di Jakarta, Minggu (28/9) mengatakan di pasar uang, fokus diarahkan pada transaksi repo dan Overnight Index Swap (OIS) yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA. Sedangkan di pasar valuta asing (valas), penguatan dilakukan lewat Domestic Non-Deliverable Forward(DNDF) dan FX Swap, dengan referensi kurs JISDOR serta kurs acuan non-USD/IDR. Adapun pada Jumat (26/9), BI telah meluncurkan matchmaking OIS.
Masih Rentan
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan financial deepening ini memang harus dilakukan. "Ini pekerjaan rumah (PR) besar, dari dulu sampai sekarang masih shallow financial sector,"tegas Esther
 Sektor finansial Indonesia selain dangkal juga masih rentan terhadap external shock dari luar negeri. Artinya menurut Esther, ada guncangan sedikit saja di luar negeri, maka rentan terjadi capital outflow ke luar negeri
Masalahnya untuk bisa mendorong ini BI harus kredibel dan independen. "Jika independensi bank Indonesia terkoyak karena segala bentuk skema burden sharing maka kepercayaan pasar terhadap Bank Indonesia juga akan berkurang,"tegas dia. (ers)
- Bank Indonesia (BI)
- FITRA
- pendalaman pasar keuangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
-
Dilema Filipina: Antara Kebutuhan Energi dan Sanksi Barat terhadap Russia
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Buntut Insiden Lift Mati, DPRD DKI Minta MRT Jakarta Pasang Cadangan Listrik di Seluruh Stasiun
-
Pemerintah Mengeklaim Harga Beras Tak Naik
-
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.