Powell Ingin The Fed Berhati-berhati Pangkas Suku Bunga

Rabu, 24 Sep 2025, 05:50 WIB
WASHINGTON DC - Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada hari Selasa (23/9) mengisyaratkan perlunya pendekatan yang hati-hati terhadap pemotongan suku bunga di masa mendatang, sangat berbeda dengan pejabat bank sentral lainnya yang menyerukan urgensi yang lebih besar dalam menanggapi melemahnya pasar kerja.
"Jika kita memangkas terlalu agresif, kita bisa membiarkan inflasi belum selesai dan perlu mengubah arah kebijakan di kemudian hari," kata Powell. "Namun, jika kita mempertahankan suku bunga acuan terlalu tinggi dalam jangka waktu terlalu lama, pasar tenaga kerja bisa melemah secara tidak perlu."
Dari Newsweek, Powell pada hari Selasa menyampaikan pernyataan yang menggarisbawahi pendekatan hati-hati dalam menurunkan suku bunga, menandakan bahwa bank sentral tidak terburu-buru memberikan keringanan tambahan meskipun ada tanda-tanda pasar tenaga kerja yang mendingin baru-baru ini.
Berbicara di Providence, Rhode Island, Powell mengatakan bahwa The Fed harus dengan cermat menyeimbangkan mandat gandanya, yaitu menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Ia menekankan bahwa pemotongan suku bunga "terlalu agresif" dapat membuat inflasi tidak terselesaikan dan memaksa para pembuat kebijakan untuk mengubah arah, sementara mempertahankan suku bunga terlalu lama dapat menyebabkan pelemahan yang tidak perlu di pasar tenaga kerja.
Pesan Powell menggemakan komentarnya setelah pemangkasan suku bunga pertama The Fed tahun ini pekan lalu, ketika ia menggambarkan proses pengambilan keputusan sebagai "menantang". Nada bicaranya kontras dengan pejabat The Fed lainnya yang mendorong tindakan lebih cepat. 
Gubernur The Fed Michelle Bowman dan anggota dewan Stephen Miran, keduanya ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, mendesak pemangkasan suku bunga yang lebih tajam, dengan alasan bahwa perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dan penurunan inflasi memerlukan tindakan yang lebih cepat. Sebaliknya, Powell dan beberapa rekannya, termasuk Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, memperingatkan bahwa inflasi masih di atas target 2 persen dan memperingatkan agar tidak bergerak terlalu cepat.
Perbedaan ini menyoroti perpecahan yang semakin besar dalam komite penentu suku bunga The Fed dan menimbulkan pertanyaan tentang seberapa agresif bank sentral akan bertindak dalam beberapa bulan mendatang. Untuk saat ini, pernyataan Powell menunjukkan bahwa The Fed akan tetap pada jalur yang terukur, dengan tujuan memberikan dukungan kepada pasar tenaga kerja sekaligus mewaspadai risiko memicu kembali inflasi.
Berapa Suku Bunga Fed Saat Ini?
Suku bunga acuan The Fed kini berada di sekitar 4,1 persen, turun dari 4,3 persen. Langkah ini menandai pemangkasan pertama tahun ini, dan para pembuat kebijakan telah mengisyaratkan bahwa mereka berharap dapat menurunkan suku bunga dua kali lagi pada tahun 2025. Dengan menurunkan suku bunga acuannya, The Fed dapat secara bertahap menurunkan biaya pinjaman untuk hipotek, kredit mobil, dan kredit usaha, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi rumah tangga dan perusahaan.
Selama masa kepresidenannya, Trump sering berselisih dengan Powell, yang ia tunjuk sebagai ketua The Fed pada tahun 2018. Trump mengkritik Powell karena tidak menurunkan suku bunga lebih cepat dan lebih intensif. Presiden secara terbuka telah melontarkan gagasan untuk mencopotnya, dengan alasan bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi mengancam pertumbuhan ekonomi dan melemahkan kebijakan pemerintahannya.
Sikap hati-hati Powell berbeda dengan beberapa rekannya di komite penetapan suku bunga The Fed. Pada hari Senin, Stephen Miran, anggota dewan gubernur The Fed yang ditunjuk Trump, mengatakan para pembuat kebijakan harus segera memangkas suku bunga hingga serendah 2 persen hingga 2,5 persen. Miran, yang juga merupakan penasihat utama dalam pemerintahan Trump, mengatakan ia berharap dapat kembali ke Gedung Putih ketika masa jabatannya berakhir pada bulan Januari, kecuali jika ia diangkat kembali.
Sebelumnya pada hari Selasa, Gubernur The Fed Michelle Bowman, yang juga ditunjuk Trump, juga mendesak percepatan pemangkasan suku bunga. Berbicara di Asheville, Carolina Utara, Bowman berpendapat bahwa meredanya inflasi dan melemahnya pertumbuhan lapangan kerja merupakan alasan kuat untuk menurunkan biaya pinjaman lebih cepat.
"Sudah saatnya bagi (The Fed) untuk bertindak tegas dan proaktif guna mengatasi menurunnya dinamisme pasar tenaga kerja dan munculnya tanda-tanda kerapuhan," ujar Bowman. "Kita berisiko besar tertinggal dalam mengatasi kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk."
Namun, komentar Powell menunjukkan sedikit urgensi, yang justru menyoroti perpecahan yang semakin melebar di dalam bank sentral. Beberapa pembuat kebijakan sependapat dengannya bahwa inflasi masih tinggi dan tindakan yang terlalu cepat dapat menghambat kemajuan yang telah dicapai dalam mengendalikan kenaikan harga.
Pada hari Selasa, Austan Goolsbee, presiden Chicago Fed, mengatakan kepada CNBC bahwa inflasi yang terus berlanjut menunjukkan perlunya pengendalian.
"Dengan inflasi yang telah berada di atas target selama 4,5 tahun berturut-turut, dan terus meningkat, saya rasa kita perlu sedikit berhati-hati agar tidak terlalu agresif di awal," ujarnya.
Apa yang Terjadi Selanjutnya
Keputusan terbaru Fed menggarisbawahi tindakan penyeimbangan rumit yang dihadapinya: memangkas suku bunga cukup untuk mendukung pasar tenaga kerja yang mendingin tanpa menyalakan kembali inflasi yang telah melampaui target 2 persen sejak 2021.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.