Kim Jong Un Sindir AS: Siap Negosiasi Lagi Kalau Hentikan Obsesi Denuklirisasi
📅 Senin, 22 Sep 2025, 19:15 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: NPR
JAKARTA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membuka peluang untuk melanjutkan negosiasi yang sudah lama terhenti dengan Amerika Serikat. Syaratnya, Washington harus berhenti dengan apa yang ia sebut sebagai “obsesi” menghapus senjata nuklir Pyongyang.
Pernyataan ini disampaikan Kim dalam rapat Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara. Menurutnya, tak ada alasan bagi Korut untuk menolak duduk bersama AS jika pendekatannya didasarkan pada pengakuan realitas dan koeksistensi damai.
“Jika AS melepaskan obsesinya yang sia-sia terhadap denuklirisasi dan ingin mengejar koeksistensi damai dengan Korea Utara berdasarkan pengakuan realitas, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak duduk bersama AS,” ujar Kim.
Kim bahkan menyebut dirinya masih memiliki kenangan baik dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan pertemuan-pertemuan di masa lalu tetap meninggalkan kesan personal yang positif.
Kim dan Trump sempat bertemu di Singapura, Vietnam, dan perbatasan antar-Korea pada 2018 hingga 2019. Namun, diplomasi tersebut gagal melahirkan kesepakatan konkret terkait pencabutan sanksi dengan imbalan langkah denuklirisasi Pyongyang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Kim, Korea Utara membangun program nuklir bukan untuk agresi, melainkan sebagai jaminan kelangsungan hidup negara. Ia menambahkan status nuklir kini sudah dikunci secara permanen dalam konstitusi negaranya.
“Dunia sudah tahu betul apa yang dilakukan Amerika Serikat setelah memaksa negara lain untuk menyerahkan senjata nuklir mereka dan melucuti senjatanya,” ucap Kim. Ia menyinggung Irak dan Libya sebagai contoh negara yang kehilangan kedaulatannya setelah dilucuti.
Sementara itu, Donald Trump sempat menyatakan keinginannya untuk bertemu Kim Jong Un tahun ini kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Trump juga berulang kali menyebut Korea Utara sebagai “kekuatan nuklir,” sebuah pengakuan yang ditolak oleh pemerintahan AS sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Posisi Kim kini dinilai jauh lebih kuat dibanding pertemuan terakhir dengan Trump. Selain arsenal nuklir yang semakin besar, Korea Utara juga mendapat dukungan lebih kuat dari Rusia dan China.
Hal ini semakin ditegaskan lewat parade militer di Beijing bulan lalu. Kim tampil bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, memperlihatkan poros baru dukungan politik.
Meski membuka pintu dialog dengan AS, Kim justru menutup peluang penyatuan dengan Korea Selatan. “Kita tidak akan pernah bersatu dengan negara yang mempercayakan politik dan pertahanannya kepada kekuatan asing,” ujarnya.
Ia menyebut gagasan reunifikasi antar-Korea sudah tidak relevan lagi. Tahun lalu, Pyongyang bahkan resmi mengabaikan tujuan lama untuk bersatu kembali dengan Seoul dan menghentikan semua jalur komunikasi.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tetap mencoba merangkul Korea Utara sejak menjabat pada Juni lalu. Ia menghentikan siaran propaganda dan menawarkan kerja sama, tetapi upayanya berulang kali ditolak Pyongyang.
Lee juga mengajukan peta jalan denuklirisasi dalam tiga tahap, mulai dari pembekuan, pengurangan, hingga pembongkaran senjata nuklir. Ia menegaskan tetap akan melanjutkan upaya perdamaian meski Korea Utara bersikap dingin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!