Sektor Energi Diprakirakan Gagal Capai Puncak Emisi pada 2030
Jumat, 19 Sep 2025, 01:00 WIBJakarta - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan sektor energi diperkirakan tidak dapat mencapai kondisi puncak emisi pada 2030 sesuai prakiraan, sehingga sektor kehutanan perlu didorong untuk mencapai penurunan lebih besar.
Dalam pembahasan implementasi MRA antara Sertifikasi Pengurangan Emisi GRK Indonesia (SPEI) dan JCM di Jakarta, Kamis (18/9), Menteri LH Hanif menyampaikan bahwa dalam dokumen iklim Second Nationally Determined Contribution (NDC), memasukkan prakiraan sektor energi, sebagai salah satu penghasil emisi terbesar, tidak akan mencapai puncak emisi pada 2030 seperti yang ditargetkan dalam dokumen sebelumnya.
"Di dalam dokumen tersebut, sektor energi belum akan peak di tahun 2030. Sektor energi akan peak di tahun 2038. Sementara di dalam skenario kita, maka puncak emisi total harus jatuh di tahun 2030, tidak ditawar," jelasnya.
"Sehingga sektor FOLU. harus mengakselerasi ini, sektor FOLU harus meningkatkan kinerjanya," tambah Hanif.
Sektor FOLU diperkirakan berkontribusi lebih dari 60 persen untuk pengurangan emisi, mengingat sektor energi belum dapat mencapai kondisi puncak pada 2030.
Namun, di sisi lain Indonesia memerlukan pendanaan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja pengurangan emisi, terutama sektor FOLU. Sumber pendanaan tersebut tidak dapat hanya berasal dari pendanaan tradisional seperti APBN.
Untuk itu, implementasi nilai ekonomi karbon lewat perdagangan karbon kemudian dikejar untuk memastikan dapat mencapai kondisi Net Zero Emission, atau emisi yang dihasilkan sama dengan yang berhasil dikurang, pada 2060 seperti yang ditargetkan pemerintah.
Untuk mencapai kondisi tersebut, maka Indonesia harus mencapai puncak emisi pada 2030.
"Berdasarkan hitungan kami, di dalam Indonesia FOLU Net Sink 2030, itu kita memerlukan dana sampai di angka Rp400 triliun," kataya.
Jumlah itu sendiri lebih kecil dibandingkan pendanaan yang dibutuhkan untuk menekan emisi di sektor energi untuk mencapai kondisi emisi yang dilepaskan sama atau bahkan lebih sedikit dibandingkan yang berhasil ditekan, yaitu mencapai Rp4.000 triliun.
Beberapa langkah yang sudah diambil pemerintah, tidak hanya membuka pasar karbon domestik dan internasional di Tanah Air yang masuk dalam kategori pasar karbon berdasarkan kepatuhan (compliance carbon market) tapi juga masuk ke dalam pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) yang sudah berkembang di tingkat global.
KLH sebelumnya sudah menandatangani kerja sama dengan beberapa standar karbon global termasuk Gold Standard, Plan Vivo Foundation dan Global Carbon Council (GCC) untuk memastikan karbon Indonesia dapat menjangkau pasar lebih luas, terutama karbon hayati seperti yang berasal dari sektor kehutanan.
COP30 Brasil
Lebih lanjut, pemerintah Indonesia siap membawa sekitar 60 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) untuk dipamerkan dalam rangka mendorong potensi penjualannya dalam Konferensi Perubahan Iklim Ke-30 (COP30) di Brasil.
"InsyaAllah kalau kita semua sudah tarik maka nanti di Belem, Brasil, mudah-mudahan kita bisa menghadirkan sertifikat emisi gas rumah kaca berdasarkan Paris Agreement itu di angka lebih dari 60 juta CO2e," kata Hanif Faisol Nurofiq.
Jumlah 60 juta ton CO2e itu berasal dari sejumlah sektor yang berhasil menekan emisi gas rumah kaca (GKR) yang dihasilkan dengan berbagai cara. Termasuk dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan (forestry and other land uses/FOLU) yang siap sekitar 15 juta CO2e, dengan hampir 50 juta ton CO2e potensi yang tersedia dari sektor tersebut.
Terdapat juga potensi dari proyek pengurangan emisi di bawah skema Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism/CDM), yang sedang menjalani transisi ke mekanisme baru di bawah Pasal 6.4 Perjanjian Paris, sekitar 4,8 juta ton CO2e.
Tidak hanya itu, kata Hanif, terdapat juga potensi dari carbon vintage atau jumlah pengurangan karbon yang sudah diinventarisasi dan belum dibeli atau dikompensasi oleh negara maju yang menjanjikan pendanaan iklim maupun lembaga internasional lainnnya.
"Nilainya cukup besar, 721 juta ton CO2e. Ini yang nanti juga kami akan pamerkan di Belem, Brasil," tuturnya.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kebutuhan Gas Pembangkit Naik 4,5% per Tahun, LNG Jadi Andalan Transisi Energi hingga 2034
-
Nggak Perlu Bangun PLTU Baru! Ini Jurus PLN Tekan Emisi Pakai Limbah Kebun Milik Warga
-
Kemenhub Penguatan Keamanan Penerbangan Perintis di Papua
-
Percepat Transisi Energi Terbarukan
-
69 Titik Gerakan Pangan Murah di Kepri, Pemprov Pastikan Akses Pangan Terjangkau untuk Warga
-
Film Terbaru "Spider Man: Brand New Day" Ceritakan Babak Selanjutnya Kisah Peter dan MJ
-
Kemenhut Pastikan Pemanfaatan Kayu Hanyutan Banjir Sumatra Dilaporkan ke Satgas PRR
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.