Waspada! AI Ubah Wajah Serangan Siber, Sektor Keuangan Kini Makin Terancam
Kamis, 13 Agu 2026, 21:40 WIBJAKARTA â Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memperluas risiko serangan siber terhadap sektor keuangan karena teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat serangan lebih cepat, presisi, dan sulit dideteksi.
Ancaman tersebut tidak hanya menyasar pencurian data dan dana, tetapi juga dapat mengganggu sistem pembayaran serta kepercayaan publik, sehingga penguatan keamanan siber, deteksi dini, dan ketahanan sistem keuangan menjadi semakin mendesak.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyampaikan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah lanskap serangan siber pada sektor keuangan.
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata BSSN Edit Prima mengatakan AI mengubah seluruh siklus serangan siber menjadi lebih otomatis, adaptif dan efektif.
"Jadi dengan bantuan AI, penipuan sangat mudah, sangat personal, sangat meyakinkan, hampir bebas dari kesalahan tata bahasa dan sulit dibedakan dari versi asli,â kata Edit dalam acara Indonesian Cyber Security Summit 2026 di Jakarta, Kamis (13/8).
Menurut Edit, penggunaan AI dalam serangan siber menjadi berbahaya bagi sektor keuangan karena sejumlah alasan.
Pertama, AI memungkinkan penyerang menyasar ribuan target secara bersamaan. AI mampu menganalisis data untuk membuat serangan yang lebih terarah dan relevan.
Kedua, AI mempercepat setiap tahapan serangan, mulai dari pengakuan hingga eksploitasi. AI bisa beradaptasi dan menghindari sistem keamanan tradisional.
Ketiga, ketersediaan berbagai perangkat AI membuat serangan siber canggih dapat dilakukan oleh siapa saja.
âAI ini telah menciptakan kalau istilah kita itu democratization of tech. Jadi siapapun bisa melakukan serangan, tidak harus orang yang punya kemampuan skill teknis yang memadai. Cukup dengan bantuan tools, layanan-layanannya sudah bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah,â jelasnya.
Edit menerangkan apabila serangan siber berbasis AI semakin gencar terjadi, sektor keuangan akan menghadapi berbagai dampak, mulai dari meningkatnya kerugian finansial, hilangnya kepercayaan nasabah, gangguan operasional, hingga penurunan reputasi perbankan.
Oleh karena itu, BSSN berupaya memperkuat ketahanan siber di sektor keuangan melalui sejumlah strategi, salah satunya dengan meningkatkan kolaborasi bersama lembaga-lembaga di sektor keuangan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).
BSSN juga membentuk Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) serta mendorong setiap organisasi untuk memiliki tim khusus serupa.
TTIS merupakan tim yang bertugas melakukan deteksi dini, respons cepat, dan mitigasi terhadap insiden siber. Tim itu menjadi perpanjangan tangan BSSN di lapangan dan berperan sebagai first responder sebelum insiden berkembang lebih jauh.
âUntuk kolaborasi yang lebih teknis, kita mendorong di setiap organisasi pelaku industri keuangan ini bisa punya tata kelola penanganan insiden yang rapi dan terstruktur,â kata Edit.
BSSN juga mengimbau setiap organisasi di industri keuangan wajib memiliki, membentuk dan mengoperasikan TTIS, sekaligus melakukan registrasi tim tersebut kepada BSSN.
âIntinya kita berharap mendorong, bahkan sudah diatur dalam peraturan, bahwa setiap organisasi wajib punya, membentuk, mengoperasikan tim tanggap insiden siber. Tidak hanya itu, juga mendaftarkan atau registrasi ke BSSN,â ujarnya.
- Sektor Keuangan
- BSSN
- ancaman siber AI
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tradisi Ngubek Empang di Depok
-
Jakarta Film Commission Diluncurkan: Simak Layanan Satu Pintu Filming in Jakarta untuk Sineas
-
Dukung Peternak Kecil, Teddy Indra Wijaya Beli 35 Sapi Kurban di Boyolali.
-
BPS Laporkan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Sumatera Barat Meningkat
-
Gubernur Babel Perluas Tanam Padi Jaksa Mandiri Pangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.