Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Kian Tertekan: The Fed Main ‘Aman’ Bikin Pasar Gelisah

📅 Jumat, 19 Sep 2025, 17:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Kian Tertekan: The Fed Main ‘Aman’ Bikin Pasar Gelisah Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
Ket. Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta.

JAKARTA – Rupiah ditutup melemah seiring sikap hati-hati The Fed yang menambah ketidakpastian pasar, sekaligus memperkuat dolar AS.

Bagi rupiah, hal ini menunjukkan kerentanan terhadap arus modal keluar, terutama jika ekspektasi pemangkasan suku bunga mundur lebih lama dari perkiraan.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (19/9) sore ditutup melemah 74 poin atau 0,45 persen menjadi Rp16.601 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.527.

Dari faktor eksternal, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu tekanan usai pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang menyatakan tidak ada dukungan luas untuk pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps).

Powell juga menyampaikan bank sentral AS tidak terburu-buru menurunkan suku bunga karena keputusan akan sepenuhnya bergantung pada data ekonomi.

"Ketua The Fed Jerome Powell yang menekankan bahwa 'tidak ada dukungan luas' untuk pemotongan suku bunga sebesar 50 bps dan mengatakan bahwa bank sentral tidak merasa perlu untuk bergerak cepat dalam menurunkan suku bunga," kata dia di Jakarta.

Selain itu, data ekonomi AS juga memperkuat posisi dolar.

Klaim pengangguran awal mingguan turun menjadi 231 ribu, lebih baik dari perkiraan 240 ribu, sementara Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia untuk September melonjak ke level 23,2 dari ekspektasi 2,3.

Lonjakan ini menandakan pemulihan aktivitas manufaktur AS yang lebih cepat dari perkiraan.

Menurut Ibrahim, fokus pasar saat ini juga tertuju pada sanksi baru AS terhadap minyak Rusia di tengah memanasnya konflik Rusia-Ukraina, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Kemudian, dampak perang tarif AS terhadap mitra dagangnya kian menekan perekonomian dunia dan memperlebar disparitas pertumbuhan antarnegara.

Sementara dari sisi domestik, Ibrahim memandang pengusaha masih gamang untuk memanfaatkan kredit perbankan meski pemerintah menggelontorkan dana Rp200 triliun ke perbankan.

Sebab, likuiditas yang besar belum otomatis mendorong ekspansi dunia usaha jika permintaan kredit masih rendah.

"Saat ini, pengusaha masih gamang dalam memanfaatkan kredit perbankan. Apalagi perbankan sangat berhati-hati dalam menggelontorkan kredit untuk sektor riil," tuturnya

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.