Fakta Riza Chalid: Dari Godfather Minyak ke Buronan Internasional, Bayangan Petral yang Kini Dikejar Negara

Selasa, 16 Sep 2025, 09:15 WIB
JAKARTA - Mohammad Riza Chalid selalu menghantui narasi energi Indonesia. Ia digambarkan bukan sekadar pengusaha, melainkan figur “tak terlihat tapi terasa”, seperti cuaca yang menentukan arah pasar minyak. 
Julukan “Gasoline Godfather” bukan mitos, melainkan lahir dari perannya sebagai pemasok utama jaringan Pertamina lewat Petral, entitas perdagangan minyak yang sempat menjadi gerbang impor BBM terbesar negeri ini.
Lahir pada 1960, Riza Chalid membangun kerajaan bisnis lintas sektor, mode, minuman, perkebunan sawit, hingga jantung utamanya, perdagangan minyak. 
Lewat perusahaan, Global Energy Resources, nama Riza Chalid melejit ke orbit elite bisnis dan bahkan sempat masuk daftar orang terkaya Globe Asia dengan kekayaan US$415 juta. 
Namun, pengaruh Riza bukan sekadar angka, ia duduk di simpang jalan antara politik, energi, dan gaya hidup urban.
Kehidupan pribadinya pun sarat cerita. Bersama mantan istrinya, Roestriana Adrianti (Uchu Riza), ia menghadirkan KidZania ke Jakarta, menciptakan waralaba hiburan edukatif anak yang jadi ikon mall mewah. 
Dari sini, terlihat jelas strategi bisnisnya, satu kaki di “komoditas keras”, satu kaki di “ekonomi pengalaman”.
Namun, sosok Riza Chalid benar-benar menjadi buah bibir publik saat drama “Papa Minta Saham” 2015 meledak. Rekaman percakapan dengan Setya Novanto dan bos Freeport Indonesia membuat publik menatapnya sebagai operator kelas koridor, bukan pemain pinggiran. 
Ia tak pernah duduk sebagai pesakitan, tapi bayangannya terus menempel di setiap isu migas negeri.
Loncatan besar terjadi pada 2025 ketika Kejaksaan Agung menetapkannya sebagai tersangka korupsi tata kelola minyak Pertamina dan KKKS 2018 hingga 2023. Ia juga dijerat pasal TPPU. 
Setelah tiga kali mangkir dari panggilan, statusnya resmi naik menjadi buronan internasional (DPO). 
Indonesia mencabut paspornya, melacak pergerakannya ke Malaysia, dan bahkan mengajukan red notice Interpol. Perburuan ini menandai bab baru, dari bayangan ke target nyata.
Kasus Riza Chalid mengingatkan bahwa bisnis minyak di Indonesia bukan sekadar urusan drum dan tanker, melainkan arena politik penuh intrik. 
Petral yang dibubarkan pada 2015 menjadi simbol tekad negara memutus rente, tapi sejarah membuktikan “pemain bayangan” selalu menemukan jalan baru.
Pelajaran penting dari saga ini, siapa pun yang menguasai jalur impor energi memegang keran politik bangsa. 
Reformasi tata kelola energi tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus menyentuh akar, transparansi kontrak, seleksi pemain, hingga audit publik yang konsisten. Jika tidak, gurita baru bisa lahir dengan wajah berbeda namun logika yang sama.
Kisah Riza Chalid adalah pengingat bahwa di balik sumur minyak, selalu ada sumur kekuasaan yang jauh lebih dalam, dan sekali tercebur, sulit untuk keluar tanpa meninggalkan jejak.
  • Interpol
  • riza chalid
  • DPO Riza Chalid
  • jejak politik riza chalid
  • Godfather Minyak Indonesia
  • red notice riza chalid
  • tppu

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.