Rupiah Tak Boleh Goyah, BI All Out Jaga Pasar Uang
📅 Senin, 01 Sep 2025, 10:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA - Menjaga stabilitas rupiah dan memastikan likuiditas yang memadai merupakan fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah yang stabil tidak hanya menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap perekonomian, tetapi juga memengaruhi langsung harga barang impor, inflasi, serta daya beli masyarakat.
Ketidakstabilan rupiah berpotensi memicu capital outflow, meningkatkan biaya utang luar negeri, dan mengganggu iklim investasi.
Sementara itu, ketersediaan likuiditas yang cukup dalam sistem keuangan sangat krusial untuk mendukung aktivitas sektor riil.
Likuiditas yang memadai memastikan perbankan mampu menyalurkan kredit secara optimal kepada dunia usaha, sehingga roda perekonomian tetap bergerak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kekurangan likuiditas akan menekan intermediasi perbankan, memperlambat pertumbuhan ekonomi, bahkan berisiko menimbulkan krisis keuangan.
Keseimbangan antara stabilitas rupiah dan kecukupan likuiditas juga menuntut sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan.
Bank Indonesia (BI), pemerintah, dan otoritas terkait harus responsif terhadap dinamika global seperti pergerakan suku bunga The Fed, harga komoditas, maupun ketegangan geopolitik, sambil menjaga faktor domestik seperti inflasi, defisit anggaran, dan persepsi investor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan strategi yang terkoordinasi, stabilitas rupiah dapat dijaga tanpa mengorbankan kebutuhan likuiditas bagi perekonomian nasional.
BI menegaskan kesiapannya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan likuiditas rupiah di pasar tetap memadai.
Dengan begitu pergerakan rupiah tetap selaras dengan nilai fundamental melalui mekanisme pasar yang berjalan dengan baik.
"Bank Indonesia berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai nilai fundamentalnya melalui mekanisme pasar yang berjalan dengan baik," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/9).
Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus memperkuat langkah-langkah stabilisasi, termasuk intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar off-shore dan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas rupiah dengan membuka akses likuiditas kepada perbankan melalui transaksi repo, transaksi fx swap dan pembelian SBN di pasar sekunder, serta lending/financing facility.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!