Sampah Koper di Jepang! Overtourism Picu Masalah Baru, Bikin Hotel dan Bandara Pusing

Kamis, 28 Agu 2025, 09:25 WIB

JAKARTA - Jepang kembali diguncang dampak buruk dari overtourism. Jika sebelumnya masalah datang dari kerumunan wisatawan yang bising, antrean spot foto yang penuh sesak, hingga naiknya harga akomodasi, kini ada problem baru yang tak kalah bikin pusing, sampah koper.

Ya, koper! Barang yang seharusnya menjadi penolong perjalanan justru berubah jadi beban besar bagi hotel, bandara, hingga masyarakat lokal. 

Ket. Foto: Ilustrasi wanita memegang koper — Sumber: Freepik

Fenomena ini muncul karena banyak wisatawan memilih membuang koper lamanya setelah membeli koper baru yang lebih besar untuk menampung suvenir serta belanjaan dari Negeri Sakura.

Koper Tertinggal Jadi Momok di Osaka

Di Distrik Minami, Osaka, kasus koper yang ditinggalkan di jalanan membuat warga resah sepanjang Agustus. Seorang pekerja bar karaoke berusia 19 tahun bahkan mengaku ketakutan.

“Saya tidak tahu apa yang mungkin ada di dalamnya, jadi ini menakutkan,” ujarnya.

Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Di tengah ancaman keamanan global, sebuah koper misterius bisa saja memicu kepanikan, karena berpotensi dicurigai menyimpan barang berbahaya.

Hotel Jadi Gudang Koper Bekas

Masalah juga menimpa industri perhotelan. Best Western Hotel Fino Osaka Shinsaibashi, misalnya, kerap menemukan 3–4 koper tertinggal di kamar setiap harinya. 

Dari total 161 kamar, koper-koper tersebut akhirnya disimpan di ruang barang hilang selama tiga bulan. Sayangnya, sebagian besar tidak pernah diambil kembali.

Akibatnya, pihak hotel harus menanggung biaya pembuangan yang tak sedikit, mencapai 300 ribu yen (Rp 33 jutaan) hanya dalam setahun.

“Ini memberikan beban berat bagi staf kami, yang harus menghubungi para tamu dan mengeluarkan koper dari kamar,” jelas Kentaro Kaneko, Manajer Umum hotel tersebut.

Kini, hotel-hotel memilih menyerahkan koper yang tak tertebus ke perusahaan kebersihan. 

Bahkan, survei Biro Konvensi dan Pariwisata Osaka pada Juni–Juli lalu mencatat, lebih dari 80 persen hotel di Osaka mengaku sampah koper adalah masalah serius.

Bandara Kewalahan

Tak hanya hotel, bandara di Jepang pun ikut terhantam. Bandara Internasional Narita mencatat 1.073 koper terbuang sepanjang tahun fiskal 2024, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019. 

Bandara Kansai juga melaporkan angka serupa, bahkan melampaui masa sebelum pandemi.

Situasi ini bisa berbahaya. Di Bandara Internasional Chubu Centrair, seorang pria sampai harus diproses hukum karena meninggalkan koper setelah memindahkan isinya ke tas lain. 

Polisi menegaskan, koper kosong yang dibiarkan begitu saja tetap dianggap ancaman karena berpotensi menyembunyikan bahan peledak. 

Pemeriksaan pun harus dilakukan oleh sejumlah petugas, membuang waktu dan tenaga.

Butuh Solusi Sistemik

Profesor Daisuke Abe dari Universitas Ryukoku menilai, fenomena ini terjadi karena koper di Jepang relatif murah, sehingga turis lebih memilih membuang daripada membawanya pulang. 

Ia menekankan perlunya kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk menciptakan sistem pembuangan koper yang jelas, sekaligus memberi informasi memadai kepada wisatawan.

Fenomena sampah koper ini membuktikan bahwa overtourism bukan hanya soal keramaian atau harga mahal, tetapi juga menyangkut lingkungan, keamanan, dan beban logistik. 

Jepang kini dihadapkan pada tantangan baru, bagaimana membuat turis nyaman tanpa harus mengorbankan ketertiban dan kesejahteraan masyarakat lokal.

  • koper
  • Jepang
  • overtourism
  • sampah koper

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.