Prof Syukur, Sang Pemulia Tanaman berbagai Varietas CVabai
📅 Sabtu, 23 Agu 2025, 08:45 WIB | Oleh: SujarCabai memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Setiap tahun kebutuhan akan cabai di Indonesia mencapai 1,7 juta ton dengan rata-rata konsumsi 3 kilogram per orangnya.
Untuk satu hektare lahan misalnya, membutuhkan biaya sekitar Rp150 juta hingga Rp200 juta dengan jumlah produksi yang dihasilkan sekitar 10-20 ton dengan lama masa tanam 6 bulan. Dengan kata lain biaya untuk menghasilkan satu kg cabai sekitar Rp7.500 hingga Rp20.000.
Potensi keuntungan yang didapat cukup tinggi sekitar Rp50 juta hingga Rp200 juta untuk satu musim tanam, tergantung pada harga cabai di pasaran. Cabai juga memiliki keunggulan dapat ditanam dimana saja dan kapan saja. Beda halnya dengan wortel atau kentang yang hidup di dataran tinggi.
"Bahkan kalau kondisi lingkungannya bagus dan ditunjang air, pencahayaan yang cukup, maka ada gelombang kedua. Jadi tanaman tidak perlu dibongkar dan ditanam ulang, tapi itu dengan catatan lingkungannya harus benar-benar optimal," terang Guru Besar Fakultas Pertanian IPB itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Walau bisa hidup dengan kondisi alam apa saja, Syukur menyarankan agar petani dapat memilih varietas cabai sesuai dengan kondisi lingkungan budidayanya. Kebutuhan akan cabai juga sepanjang tahun, karena tradisi masyarakat Indonesia mengonsumsi cabai dalam keadaan segar.
"Jadi kalau misalnya kebutuhannya hari ini, ya harus panen kemarin atau panen maksimum seminggu yang lalu," terang dia.
Meski memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, budi daya cabai juga memiliki tantangan yang tak mudah. Pada musim kemarau, cabai rentan akan hama. Sedangkan saat musim hujan rentan dengan penyakit, seperti penyakit tular tanah yang bisa menyebabkan kematian.
"Jadi sepanjang masa ada saja masalahnya. Bagi petani lebih mudah mengendalikan hama dibandingkan penyakit yang bisa hilang dengan penyemprotan," kata peraih penghargaan Inovator IPB paling produktif pada 2020 itu.
Sedangkan penyakit, cukup sulit untuk dihadapi dan dapat menyebabkan kematian pada tanaman cabai. Selain penyakit tular tanah, juga ada penyakit virus keriting kuning yang menjadi penyakit utama pada cabai.
Oleh karenanya, sulit bagi petani menanam pada musim hujan kecuali jika memang terampil dan memiliki teknologi budidaya yang baik. Selain itu perubahan iklim juga menjadi tantangan sendiri bagi petani. Budi daya pun semakin sulit karena kondisi lingkungan akibat perubahan iklim, membuat penyakit berkembang dengan lebih baik. Syukur bersama tim dari IPB juga telah mengeluarkan varian yang tahan perubahan iklim yakni varietas cabai keriting Neno Tavi IPB yang tahan terhadap virus.
Tantangan lainnya yakni fluktuasi harga cabai cukup tinggi tergantung pada ketersediaan dan permintaan. Untuk itu, dia berharap pemerintah turun tangan dalam mengendalikan harga cabai.
"Kalau petani tidak panen, maka cabai tidak ada di konsumen. Itu menyebabkan harganya fluktuatif. Nah kalau harganya di bawah rata-rata, petani dengan mudah akan pindah ke tanaman lain. Akibatnya cabai langka di pasaran dan harganya naik. Perlu adanya campur tangan pemerintah sebagai regulator untuk mengontrol harga cabai ini," harap akademisi yang memiliki H-indeks 12 di Scopus ini.
Pemerintah juga diharapkan dapat memperhatikan impor cabai yang mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Impor cabai tersebut dilakukan tidak dalam bentuk segar melainkan olahan seperti seperti pasta maupun cabai bubuk yang banyak diimpor dari China dan India.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!