IHSG Lesu, Pasar Saham Indonesia Masih Terikat Irama The Fed

Kamis, 21 Agu 2025, 17:40 WIB

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah, mencerminkan sikap wait and see investor menjelang pidato Ketua The Fed. 

Pelemahan ini bukan sekadar reaksi pasar terhadap sentimen eksternal, tetapi juga sinyal bahwa pasar saham Indonesia masih sangat tergantung pada kebijakan moneter AS.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pergerakan harga saham. — Sumber: Antara.

Setiap kata dari The Fed bisa mengguncang IHSG, menunjukkan kerentanan investor domestik terhadap dinamika global.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan provokatif: apakah fundamental ekonomi Indonesia terlalu lemah untuk menopang pasar saham sendiri, sehingga harus terus menari mengikuti irama Fed?

IHSG yang melemah di tengah “wait and see” bukan sekadar fluktuasi normal, tetapi bisa menjadi alarm dini bahwa pasar modal belum cukup matang dan likuiditas domestik belum memadai untuk menghadapi guncangan global.

Selain itu, pelemahan IHSG berpotensi berdampak domino pada sentimen investor ritel, terutama yang masuk tanpa strategi manajemen risiko yang matang. 

Jika investor panik saat pidato Fed, volatilitas bisa meningkat tajam, mengancam stabilitas pasar modal dan kepercayaan publik. 

Dengan kata lain, IHSG yang menurun hari ini bukan sekadar angka, tetapi cermin rapuhnya ketahanan pasar saham Indonesia di tengah arus global yang tak menentu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/8) sore, ditutup melemah 53,10 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.890,72 di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pidato Ketua The Fed Jerome Powell.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,03 poin atau 0,25 persen ke posisi 828,98.

“Aksi profit taking terhadap beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar membebani IHSG,” sebut Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta.

Dari mancanegara, pelaku pasar global menantikan pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium Jackson Hole di Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/8).

Dari dalam negeri, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai 3 miliar dolar AS pada kuartal II-2025, dari sebelumnya defisit 228 juta dolar AS pada kuartal I-2025, namun relatif sama dibandingkan dengan kuartal IV-2024.

Data itu menandai defisit neraca transaksi berjalan selama sembilan kuartal berturut-turut dan merupakan defisit terbesar sejak kuartal II-2024, atau setara dengan 0,8 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Indonesia (BI) menargetkan defisit transaksi berjalan sekitar 0,5-1,3 persen PDB pada 2025.

Kemudian, pelaku pasar akan mencermati data jumlah uang beredar M2 di Indonesia periode Juli 2025, yang diperkirakan meningkat 6,7 persen (yoy) atau lebih tinggi dari pertumbuhan Juni 2025 yang sebesar 6,5 persen (yoy).

Akselerasi jumlah uang beredar M2 menandakan aktivitas ekonomi dan likuiditas mulai meningkat, disinyalir salah satunya berkat pemangkasan BI Rate serta adanya bantuan sosial dari pemerintah.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu sektor industri naik sebesar 1,38 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer dan sektor teknologi yang naik masing-masing sebesar 0,69 persen dan 0,32 persen.

Sedangkan enam sektor terkoreksi yaitu sektor energi turun paling dalam sebesar 2,16 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor properti yang masing-masing naik sebesar 1,28 persen dan 0,62 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ACST, PRIM, ACRO, DFAM, dan DATA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DSSA, PACK, SAPX, BEER, dan PBSA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.129.608 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,80 miliar lembar saham senilai Rp17,00 triliun. Sebanyak 366 saham naik, 283 saham menurun, dan 158 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 248,55 poin atau 0,58 persen ke 42.640,00, indeks Hang Seng melemah 61,33 poin atau 0,24 persen ke 25.101,94, indeks Shanghai naik 4,89 poin atau 0,13 persen ke 3.771,10, dan indeks Strait Times menguat 11,36 poin atau 0,27 persen ke 4.230,90.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.