Viral di Medsos, Ampo sebuah Makanan Tradisi dari Bantul Jadi Sorotan Pakar UGM: Potensi Iritasi Pencernaan
Rabu, 20 Agu 2025, 19:20 WIBMakanan tradisional ampo mendadak viral di media sosial setelah konten tentang camilan berbahan tanah liat itu ditonton jutaan kali di TikTok dan Instagram. Meski sejak 2024 ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), status tersebut memunculkan pertanyaan baru: apakah ampo aman untuk dikonsumsi?
Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sri Raharjo, menjelaskan bahwa ampo sebagian besar tersusun dari silika dan alumina yang tidak dapat larut dalam air maupun diserap tubuh. âArtinya, ampo tidak memiliki nilai gizi. Sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh harus bisa dicerna dan larut,â katanya di Yogyakarta, Rabu (20/8).
Tergantung Sumber Tanah
Sri menekankan, keamanan ampo sangat bergantung pada asal tanah yang digunakan. Tanah dari kawasan pegunungan vulkanik relatif bersih dan minim cemaran. Namun, bila diambil dari daerah dekat permukiman atau lahan pertanian, potensi kontaminasi pestisida maupun logam berat seperti timbal sangat besar. âKalau tanah sudah terpapar cemaran, konsumsinya bisa berisiko,â ujarnya.
Potensi Iritasi Pencernaan
Menurut Sri, kandungan silika dan alumina dalam ampo memang berfungsi sebagai adsorben yang bisa menyerap zat lain. Namun, bila dikonsumsi berlebihan dan dalam jangka panjang, partikel padat yang tidak larut itu dapat mengiritasi saluran pencernaan. âTerutama pada lansia dan orang-orang dengan kondisi rentan,â imbuhnya.
Budaya vs Kesehatan
Meski begitu, Sri menilai keberadaan ampo sebagai warisan budaya perlu dihormati. Ia mengingatkan agar konsumsi ampo mempertimbangkan usia, kondisi tubuh, serta jumlah yang wajar. âBalita dan manula sebaiknya tidak mengonsumsi. Idealnya dikonsumsi orang dewasa dengan daya tahan tubuh baik, dalam jumlah terbatas, dan pada waktu tertentu sesuai tradisi,â pesannya.
Ampo, yang selama ini dipercaya masyarakat dapat mengurangi rasa pahit, menyerap racun, dan menyehatkan pencernaan, kini kembali jadi perbincangan. Fenomena viralnya di media sosial menunjukkan daya tarik tradisi, tetapi sekaligus membuka ruang diskusi tentang batas aman antara budaya dan kesehatan.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Serat Palilah Diserahkan, Warga Pedak Baru Bantul Dapat Kepastian Tinggal
-
Pengelola: Kunjungan ke Kota Tua Jakarta Tembus Puluhan Ribu selama Libur Lebaran
-
Brongkos Yogyakarta Jadi Inspirasi Menu Lebaran, Dairy Champ Hadirkan Resep dengan Sentuhan Modern
-
Macet Parah, Jalan ke Pelabuhan Gilimanuk Capai 40 KM
-
Bantul Perkuat Koperasi Merah Putih Lewat Kebijakan dan Sistem Digital
-
Oman Kosongkan Pelabuhan Ekspor Minyak Utama dari Kapal Tanker
-
Otmilti II Jakarta Musnahkan Barang Bukti Perkara, Tegaskan Hukum Militer Transparan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.