• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Riset Buktikan Teman Kanto...

Riset Buktikan Teman Kantor Tingkatkan Kebahagiaan Karyawan

Selasa, 04 Agu 2026, 16:25 WIB

JAKARTA - Momen Hari Persahabatan Internasional menjadi pengingat bahwa ikatan pertemanan tidak hanya terjalin di lingkungan keluarga atau sahabat lama, tetapi juga tumbuh di tempat kerja. Bagi banyak pekerja Indonesia yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, hubungan dengan rekan kerja justru menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kenyamanan, produktivitas, hingga keputusan untuk bertahan di sebuah perusahaan.

Temuan tersebut tercermin dalam laporan Workplace Happiness Index yang dirilis Jobstreet by SEEK pada Januari 2026. Riset itu menunjukkan bahwa meski kompensasi masih menjadi pertimbangan utama saat menerima maupun mempertahankan pekerjaan, kebahagiaan karyawan lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang kuat, keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), serta makna dari pekerjaan (purpose).

Ket. Foto: Momen Hari Persahabatan Internasional menjadi pengingat bahwa ikatan pertemanan tidak hanya terjalin di lingkungan keluarga atau sahabat lama, tetapi juga tumbuh di tempat kerja. — Sumber: Jobstreet by SEEK

1. Rekan Kerja Suportif Jadi Penahan Tingginya Turnover

Kompensasi yang lebih tinggi masih menjadi harapan 54 persen pekerja Indonesia. Namun, riset menunjukkan bahwa hubungan pertemanan di tempat kerja mampu membangun rasa memiliki (belongingness) yang kuat sehingga membantu karyawan tetap bertahan di perusahaan.

Sebanyak 77 persen pekerja Indonesia mengaku kehadiran rekan kerja dan tim yang suportif menjadi faktor utama yang membuat mereka merasa bahagia saat menghadapi tekanan pekerjaan. Dukungan sosial tersebut dinilai mampu mengurangi stres, mencegah burnout, serta menekan keinginan untuk mengundurkan diri.

2. Kolaborasi yang Baik Meningkatkan Produktivitas

Hubungan yang erat antarkaryawan juga berdampak langsung terhadap efektivitas kerja. Kedekatan antaranggota tim mampu mengurangi hambatan komunikasi sehingga proses penyelesaian pekerjaan berlangsung lebih cepat dan efisien.

Selain itu, sebanyak 76 persen responden menilai lokasi dan suasana kerja yang kondusif turut mendukung terciptanya lingkungan yang aman untuk berkolaborasi. Dalam budaya kerja yang positif, karyawan lebih leluasa berbagi ide, memberikan masukan, dan menyelesaikan persoalan bersama tanpa khawatir memicu konflik personal.

3. Pertemanan Membantu Karyawan Menemukan Makna Pekerjaan

Hubungan yang solid dalam tim membuat karyawan lebih memahami kontribusi mereka terhadap tujuan perusahaan. Target organisasi yang semula terasa abstrak berubah menjadi misi bersama yang dikerjakan dengan rasa memiliki yang lebih kuat.

Riset Jobstreet mencatat bahwa perasaan memiliki pekerjaan yang bermakna menyumbang sekitar 75 persen terhadap tingkat kebahagiaan pekerja. Lingkungan kerja yang dipenuhi rekan-rekan dengan visi serupa dinilai mampu meningkatkan motivasi sekaligus komitmen dalam mencapai target organisasi.

4. Lingkungan Kerja yang Aman Mendorong Inovasi

Hubungan antarkaryawan juga berperan penting dalam membangun psychological safety atau rasa aman secara psikologis. Ketika karyawan merasa diterima dan dihargai, mereka cenderung lebih berani menyampaikan gagasan baru, mengambil risiko yang terukur, serta berinovasi.

Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis. Budaya kerja yang saling mendukung dinilai mampu menjaga motivasi karyawan sekaligus meningkatkan kemampuan tim dalam menyelesaikan berbagai persoalan secara bersama-sama.

Berdasarkan hasil riset tersebut, Jobstreet by SEEK menilai perusahaan perlu membangun budaya kerja yang lebih inklusif, kolaboratif, dan apresiatif. Penawaran gaji yang kompetitif memang mampu menarik talenta baru, namun hubungan antarkaryawan serta kultur perusahaan yang sehat menjadi faktor utama yang membuat mereka memilih bertahan.

Momentum Hari Persahabatan Internasional juga menjadi pengingat bagi para pemimpin perusahaan dan praktisi sumber daya manusia agar tidak hanya berfokus pada pencapaian indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI). Perusahaan didorong menciptakan ruang komunikasi yang sehat, memperkuat interaksi antarkaryawan, serta membangun lingkungan kerja yang mampu meningkatkan kebahagiaan, produktivitas, dan retensi tenaga kerja secara berkelanjutan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.