Miris! Perdagangan Orang Utan Indonesia Menembus Pasar Gelap Internasional

Selasa, 19 Agu 2025, 19:55 WIB

BANDA ACEH - Festival Love for Orang Utan 2025 di Aceh Selatan diwarnai ironi. Saat kampanye #KawalJanganDijual digelar, perdagangan ilegal orang utan justru masih marak, bahkan hingga lintas negara. Orangutan Information Centre (OIC) pun mengingatkan bahwa satwa ini bukan komoditas jual beli, melainkan penjaga keseimbangan hutan yang penting bagi kehidupan manusia.

Direktur Eksekutif OIC Syafrizaldi Jpang mengimbau masyarakat untuk berhenti memperdagangkan orang utan, mengingat masih maraknya perdagangan satwa dilindungi tersebut.

Ket. Foto: Seekor anak orang utan sumatra (Pongo abelii) liar bergelantungan di dahan pohon di Stasiun Penelitian Soraya, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Kota Subulussalam, Aceh, Sabtu (12/2). — Sumber: ANTARA/Syifa Yulinnas

“Orang utan itu endemik Indonesia. Rumahnya di sini. Kampanye ini adalah seruan agar kita bersama-sama menghentikan perdagangan satwa dilindungi dan menjaga habitatnya,” kata Syafrizaldi Jpang, di Aceh Selatan, Selasa.

Pernyataan itu disampaikan Syafrizaldi Jpang di sela-sela Festival Love for Orang Utan (OU Fest) 2025 dengan tagar #KawalJanganDijual yang berlangsung di Taman Hutan Raya (Tahura) Trumon, Aceh Selatan.

Dia menyampaikan bahwa perdagangan ilegal orang utan hingga hari ini masih marak terjadi, bahkan lintas negara.

"Miris, perayaan Festival Orang Utan 2025 diwarnai masih maraknya perdagangan ilegal, baik orang utan dalam kondisi hidup maupun tak bernyawa," ujarnya.

Dia menyebutkan, pada 2024 lalu tiga pedagang orang utan ditangkap kepolisian di Aceh Tamiang. Dalam penangkapan itu, seekor bayi orang utan berhasil diselamatkan dari ransel penjual.

Kemudian, tidak lama setelah di Aceh Tamiang, Gakkum KLHK juga berhasil menggagalkan transaksi jual beli dua bayi orang utan di Melawi, Kalimantan Barat.

“Meskipun kedua kasus itu tak saling berhubungan, korbannya sama, yaitu orang utan,” ujarnya.

Menurut dia, pada Februari 2025, otoritas Thailand menyita tiga bayi orang utan asal Indonesia yang diselundupkan melalui Malaysia. Kemudian, pada Mei 2025 aparat berwenang Thailand juga menggagalkan penjualan dua bayi orang utan dan menangkap pelakunya.

“Sebelumnya, otoritas kita juga berhasil membongkar jaringan perdagangan tengkorak satwa. Hasilnya, 78 tengkorak primata disita. Sebagian itu terkonfirmasi sebagai orang utan,” kata Syafrizaldi.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk memahami bahwa orang utan bukan komoditas perdagangan, melainkan satwa kunci yang menjaga keseimbangan hutan dan kehidupan manusia.

Melalui berbagai kegiatan edukatif dan kreatif, festival ini juga menghadirkan ruang belajar sekaligus kampanye konservasi yang meriah.

“Semoga festival ini meningkatkan kesadaran bahwa hutan adalah habitat asli orang utan dan warisan penting yang harus kita jaga bersama,” demikian Syafrizaldi.

  • orang utan
  • perdagangan satwa liar
  • konservasi hutan
  • festival orang utan 2025
  • penyelundupan satwa

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.