Atasi Pengangguran, DPRD Kalsel Dorong Disnakertrans Fokus pada Pelatihan Berbasis Industri
Selasa, 12 Agu 2025, 02:30 WIBBanjarmasin - Komisi IV Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) bersama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalsel membahas berbagai langkah strategis untuk menekan angka pengangguran.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kalsel Bambang Yanto Permono di Banjarmasin, Senin (11/8), membahas program kerja Disnakertrans Kalsel pada 2026, sekaligus mencari solusi agar tingkat pengangguran dapat berkurang signifikan.
âKami mendorong inovasi penyelenggaraan pelatihan yang lebih modern dan sesuai perkembangan zaman,â kata dia.
Ia juga menyarankan Pemprov Kalsel untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) minimal 2,5 persen dari anggaran perusahaan bagi pembiayaan pelatihan berbasis keterampilan baru, termasuk bidang digital.
Selain itu, Bambang menyoroti penting perlindungan pekerja lepas melalui fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, dengan usulan alokasi anggaran sekitar Rp16.000 per pekerja, serta kepastian hukum kepemilikan lahan bagi peserta transmigrasi.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalsel H Gusti Iskandar Sukma Alamsyah menegaskan agar program Disnakertrans Kalsel selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalsel 2025â2029.
"Kami berharap pengangguran dapat ditekan semaksimal mungkin untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Semua harus sejalan dengan RPJMD," tuturnya.
Melalui pembahasan tersebut, Komisi IV DPRD Kalsel berharap program kerja Disnakertrans Kalsel pada 2026 mampu menghasilkan terobosan yang dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja dan membuka peluang kerja lebih luas bagi masyarakat di Bumi Perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.
Kepala Disnakertrans Kalsel Irfan Sayuti mengatakan jumlah pengangguran saat ini mencapai 88.000 orang tersebar pada 13 kota/kabupaten dengan angka populasi lebih dari empat juta jiwa per 2025.
"Sementara kapasitas pelatihan kerja yang bisa kami laksanakan hanya sekitar 386 kegiatan," ungkap Irfan.
Menurut Irfan, faktor yang mempengaruhi tingkat pengangguran tinggi, antara lain pelatihan kerja yang kurang relevan dengan kebutuhan industri, keterbatasan lowongan kerja, serta akses pelatihan yang masih terkendala biaya, lokasi, dan waktu.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Mapolda DIY Disiapkan Jadi Pusat Keamanan Terpadu Berbasis Teknologi dan Kolaborasi
-
Pemprov Babel Prioritaskan IPR bagi Warga Desa di Kawasan Tambang Rakyat, Dorong Kesejahteraan Masyarakat.
-
Menperin Lepas 2.361 Lulusan SMK Serentak, Mayoritas Terserap di Industri dan Berwirausaha
-
Hujan Deras Lumpuhkan Pakistan, 7 Orang Tewas
-
Kaum Muda Kukar Diberi Pelatihan agar Siap Kerja supaya Menekan Pengangguran
-
Empat Wisatawan Satu Keluarga Ditemukan Meninggal saat Berkemah di Kledung, Temanggung
-
Harga Emas Antam Turun Rp9.000 Menjadi Rp2,613 Juta/Gr Pada Selasa Ini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.