Potensi Pariwisata Disebut Gila-gilaan, BI: Saatnya Dimaksimalkan!
Kamis, 07 Agu 2025, 18:50 WIBJAKARTA - Sektor pariwisata tidak hanya menjadi sumber devisa yang signifikan, tetapi juga memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor lain seperti transportasi, kuliner, perhotelan, hingga industri kreatif.Â
Dengan kontribusi terhadap PDB yang terus meningkat dan kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, pariwisata berperan sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.Â
Jika didukung oleh infrastruktur yang memadai, promosi yang efektif, dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, sektor ini dapat menjadi kekuatan strategis dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta mendongkrak daya saing Indonesia di kancah internasional.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan kekuatan ekonomi domestik yang dimiliki Indonesia menjadi pembeda utama dibandingkan negara lain, sekaligus membuka peluang yang besar untuk menarik investasi. Dalam konteks ini, pengembangan sektor pariwisata dinilai semakin relevan.
âFaktanya Indonesia negara yang indah (memiliki alam yang indah). Tapi ternyata kontribusi sektor pariwisata terhadap Indonesia itu masih relatif kecil,â kata Destry saat membuka talkshow âNext-Gen Tourismâ dalam acara Karya kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta, Kamis (7/8).
Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai empat persen pada 2024. Menurut Destry, angka ini masih relatif kecil.
Di sisi lain, sektor pariwisata mampu menyerap tenaga kerja hingga 25 juta orang berkat efek berganda (trickle-down effect) yang luas.
âSektor pariwisata tidak bisa berdiri sendiri, makanya dia harus didukung dengan sektor UMKM, termasuk makanan dan minuman, perdagangan, hotel, dan sebagainya. Itu trickle-down effect-nya besar sekali,â kata Destry.
Dari sisi capaian global, sektor pariwisata Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) yang dirilis World Economic Forum (WEF).
Berdasarkan TTDI 2024, Indonesia menempati posisi ke-22 dari 119 negara di dunia, naik 10 peringkat dari tahun sebelumnya dan berada di urutan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.
Destry pun berharap, potensi pariwisata Indonesia dapat terus digali dan dikembangkan melalui sinergi lintas sektor, guna menjadikan sektor ini sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Pada 7-10 Agustus 2025, BI menggelar Karya kreatif Indonesia (KKI) 2025 di JICC, Jakarta, yang menghadirkan beragam produk unggulan dari 362 UMKM binaan BI yang telah dikurasi bersama 8 kementerian/lembaga.
Selain itu, lebih dari 1.100 UMKM berpartisipasi secara daring melalui platform www.karyakreatifindonesia.co.id.
Produk yang ditampilkan mencakup wastra, kriya, kopi, makanan olahan, serta produk berbasis keberlanjutan.
Tahun ini, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tema utama KKI 2025, dengan mengusung filosofi lokal #KalalaMareda yang berarti âkreasi dalam kebersamaan."
KKI 2025 menargetkan peningkatan signifikan dalam dampak dan partisipasi, khususnya pada aspek business matching ekspor, pembiayaan UMKM, serta keterlibatan masyarakat luas.
- pariwisata
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kampus UHO Berduka, Rektor Prof. Armid Meninggal Dunia, Bendera Setengah Tiang Dikibarkan
-
Proliga 2025: Phonska Awali Langkah dengan Kemenangan Atas Falcons
-
Gubernur DKI: UMP 2026 Pekerja Jakarta Naik
-
Pendaki Gunung Rinjani Diimbau Lebih Waspada di Musim Hujan
-
Citra Satelit: Situs Nuklir Natanz Iran yang Dihantam Serangan AS Mulai Pulih
-
Elina Svitolina Jadi Sasaran Ancaman Usai Kalah, Soroti Dampak Judi Online dalam Turnamen Tenis
-
Pembentukan 3x3 Center untuk Mengembangkan 3x3
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.