Hati-hati Warga Cilacap, Peneliti Temukan Jejak Purba Megatsunami. Jawa Selatan Mendesak Adanya Peringatan Dini
Kamis, 07 Agu 2025, 02:03 WIBCILACAP â Penelitian era purba selalu bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Penelitian bisa menemukan jejak ribuan tahun lalu yang bermanfaat untuk sekarang.
Warga Cilacap perlu berwaspada karena ternyata di era purba pernah terjadi tsunami sangat dahsyat. Jejak itu ditemukan para peneliti.
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan mikrofauna foraminifera purba dalam lapisan pasir di kawasan rawa Adipala, Cilacap, Jawa Tengah yang menjadi indikasi kuat sekitar kawasan tersebut pernah diterjang tsunami besar pada masa lalu.
Peneliti Paleotsunami Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Purna Sulastya Putra, saat ditemui di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa lapisan pasir yang mengandung cangkang foraminifera ditemukan dalam penggalian sedimen di Adipala Cilacap dan berbagai lokasi seperti Lebak Banten, Pangandaran, dan Pulau Ndrogo.
Foraminifera adalah mikroorganisme laut yang hanya hidup di lingkungan laut dalam dan tidak terbentuk secara alami di daratan. âCangkang-cangkang foraminifera, termasuk yang masih sangat kecil atau juvenil, menunjukkan bahwa mereka tertransport dari laut oleh gelombang besar ke area rawa yang kini menjadi daratan. Ini salah satu indikator kuat bahwa terjadi peristiwa tsunami besar di masa lalu,â kata dia.
BRIN telah melakukan riset paleotsunami secara intensif sejak 2021 dengan menyisir wilayah pesisir selatan Pulau Jawa yang memiliki karakter geologis ideal untuk menyimpan jejak tsunami termasuk rawa aktif dan persawahan yang berjarak rata-rata 2 kilometer dari bibir pantai.
Di beberapa lokasi, tim juga menemukan mineral laut dan coral bercabang yang tertimbun pasir dalam kondisi masih hidup. Menurut dia, penemuan foraminifera dan elemen laut lainnya dalam lapisan sedimen menjadi landasan ilmiah penting untuk memetakan kejadian tsunami masa lalu secara lebih presisi, termasuk memperkirakan periode berulangnya bencana serupa.
Beberapa lapisan sedimen yang dianalisis tim peneliti BRIN itu diperkirakan berumur sekitar 400, 1.800, hingga 3.000 tahun. âJejak paleotsunami ini memberi kita pemahaman baru soal kekuatan dan dampak tsunami purba. Ini penting sebagai dasar mitigasi bencana yang lebih adaptif ke depan, terutama di wilayah yang saat ini tengah berkembang secara pesat,â ujar Purna.
Ia menambahkan bahwa hasil temuan ini juga mendukung urgensi integrasi aspek kebencanaan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur di wilayah rawan tsunami, termasuk di kawasan sekitar bandara, pelabuhan, serta permukiman baru yang tumbuh di selatan Jawa.
BRIN berharap kolaborasi antara peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memperkuat kesadaran risiko bencana berbasis data ilmiah, serta mendorong hadirnya sistem peringatan dini dan kebijakan pembangunan yang berpihak pada keselamatan publik.
Adapun selatan Jawa meliputi Provinsi Banten (Lebak). Provinsi Jawa Barat bagian selatan (Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran). Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, Kota Yogyakarta). Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Lumajang, Jember, Banyuwangi, dan Kabupaten Malang).
- Megatsunami
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Investigasi KPK: Pertamina Patra Niaga Jadi Saksi Dugaan Korupsi Digitalisasi SPBU Telkom
-
Produksi Berlimpah saat Panen Raya, Bulog Ditugaskan Serap Beras 3 Juta Ton
-
Duh Sayang, Kebijakan Penurunan Harga Tiket Tidak Mendongkrak Jumlah Wisatawan
-
5 Tsunami Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah Dunia, Aceh Hanya Salah Satunya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.