Guncang Dunia! Fakta Gempa Dahsyat M 8,7 di Rusia, Indonesia Nyaris Tersapu Tsunami!

Kamis, 31 Jul 2025, 09:30 WIB

JAKARTA - Dunia seolah berhenti sejenak ketika gempa berkekuatan Magnitudo 8,7 mengguncang Timur Jauh Rusia, tepatnya di Semenanjung Kamchatka. 

Getaran maha dahsyat ini bukan hanya menggoyang Rusia, tapi juga menyulut ketegangan di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia yang langsung bersiaga tinggi!

Ket. Foto: Ilustrasi tsunami — Sumber: Istimewa

Berdasarkan informasi resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 06.24 WIB, Rabu (30/7/2025), dan disebabkan aktivitas subduksi lempeng di Palung Kurile-Kamchatka. 

Mekanisme gempa yang tergolong thrust fault ini sangat rawan memicu tsunami. Negara-negara seperti Jepang, Alaska, Filipina, Hawaii, dan Guam juga masuk dalam zona waspada.

Namun yang bikin jantung masyarakat Indonesia deg-degan adalah munculnya peringatan dini tsunami di 13 wilayah Indonesia. 

Gelombang laut memang tidak besar sekitar 0,5 meter tapi jangan pernah remehkan kekuatan alam! 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan menegaskan tsunami "kecil" sekalipun bisa membawa maut.

Belajar dari kejadian tragis 2011 di Jayapura, saat hanya 1 korban jiwa tercatat dari tsunami Jepang di luar Jepang, BNPB tak mau ambil risiko. 

Warga di kawasan pesisir seperti Talaud, Halmahera, Gorontalo, Jayapura, hingga Sorong langsung diimbau untuk meninggalkan pantai dan menuju dataran tinggi. 

Bahkan sekolah-sekolah di Talaud dan Jayapura sempat diliburkan, demi keselamatan.

Beberapa warga seperti di Gorontalo dan Bone Bolango panik dan segera mengungsi ke pegunungan. 

"Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal!" ujar salah satu warga yang kaget menerima informasi tsunami dari masjid.

Menurut data BMKG, 13 wilayah Indonesia tercatat mengalami tsunami minor. 

Beberapa di antaranya adalah:

Jayapura: 0,3 meter

Sarmi: 0,5 meter

Sorong: 0,2 meter

Bitung: 0,21 meter

Likupang: 0,14 meter

Meski terlihat kecil, dampak tsunami bisa diperparah oleh bentuk pantai dan teluk yang sempit. 

Fenomena ini disebut amplifikasi tsunami, dan bisa menyebabkan gelombang yang awalnya kecil menjadi berlipat-lipat tinggi saat sampai di daratan.

Tak heran BMKG baru mencabut status peringatan tsunami pada 22.42 WIB. 

Mereka menunggu sampai lima puncak gelombang berlalu, karena pengalaman menunjukkan gelombang paling berbahaya justru datang belakangan.

Direktur BMKG, Daryono, menekankan pentingnya tetap siaga karena tsunami bisa berosilasi tak terduga. 

"Jangan lengah. Gelombang akhir bisa lebih besar dari awal," tegasnya.

Kesimpulannya?

Meski Indonesia selamat dari bencana besar kali ini, peringatan tsunami bukan main-main! 

Masyarakat diminta tetap waspada dan tidak menganggap remeh gelombang "kecil". 

Alam memang tak bisa ditebak, dan keselamatan selalu harus jadi prioritas utama.

  • tsunami
  • gempa
  • Indonesia
  • gempa rusia

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.